Toxic Positivity: Emang Boleh Sepositif Ini?
Hallo DC Buddies!
Gimana harinya? Baik? Buruk? Capek? Muak? Lelah? Happy?
“Sejujurnya capek banget min, tapi aku ngerasa ini belum seberapa dibanding yang lain”
“Sedikit ada masalah tapi its okayy semuanya pasti akan baik-baik aja”
Mungkin ada beberapa yang merasa seperti itu, capek tapi ngerasa harus semangat terus. Tanpa kamu sadari, secara tidak sengaja kamu sedang mengalami toxic positivity, lho!
Kamu sudah tahu belum tentang istilah "toxic positivity"? Kalo belum, yuk, kita bahas bareng-bareng sekarang!
Jadi, toxic positivity itu seperti ketika kamu terlalu fokus pada sikap positif dan malah mengecilkan perasaan negatif kamu. Keliatannya positif sih, tapi perlu kita garis bawahi kalo pikiran positif berlebihan ini akan berdampak pada mental kita, dalam jangka panjang bisa berisiko menyebabkan stres, depresi, gangguan cemas (anxiety disorder), dan gangguan mental lainnya.
Kenali Tanda Kamu Tidak Sengaja Mengalami Toxic Positivity
Salah satu tanda utama toxic positivity adalah mengabaikan perasaan negatif seperti kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan. Siapa nih yang selalu merasa perlu untuk “selalu bahagia” dan selalu menekan emosi negatif seakan-akan perasaan negatif tidak boleh dirasakan? ini bisa menjadi pertanda bahwa kamu mengalami toxic positivity. Perilaku toxic positivity ini seringkali tidak kita sadari, lho! Seperti, senang menyembunyikan emosi atau perasaan yang sebenarnya, cenderung menghindari masalah berat, sulit dalam mengungkapkan ketidaksetujuan, hingga mengabaikan keadaan buruk yang dapat membahayakan diri sendiri.
Toxic positivity yang dialami secara terus menerus ini dapat memberikan efek buruk pada kehidupan, terutama pada kesehatan mental. Dilansir dari CNN Indonesia, seorang Psikolog klinis bernama Veronica, mengungkapkan bahwa dampak dari toxic positivity, seseorang bisa merasa pikirannya menjadi salah. Hal ini akan menambah masalah baru, menambah beban, serta memperburuk kondisinya. Orang yang mendapatkan toxic positivity juga dapat mempengaruhi pandangan mereka terhadap dirinya sendiri. Mereka akan mudah merasakan perasaan rendah diri apabila terlihat sedang tidak baik-baik saja ketika berhadapan dengan orang lain.
Tapi jangan khawatir, Mimin ada tips nih buat kamu yang suka gak sengaja ngalamin toxic positivity, cekidot:
Terima semua perasaan yang kamu rasakan. Kamu punya hak buat ngejalanin perasaan kamu sendiri. Gak ada yang salah sama berpikir positif, tapi inget, hidup itu beragam. Jadi, punya keseimbangan antara positif dan realistis.
Hindari orang-orang yang ngerasa positif terus adalah satu-satunya cara hidup bahagia. Gak ada yang punya hak buat nyuruh kamu harus selalu happy.
Kurangi membanding-bandingkan masalah. Membandingkan keadaan buruk bukanlah suatu solusi. Pahami lah masalah tanpa perlu menghakimi.
Referensi
“Toxic Positivity: Why It's Harmful and What to Say Instead” diakses dari: https://www.verywellmind.com/what-is-toxic-positivity-5093958
“Apa itu Toxic Positivity? Ini Dampak dan Cara Menghindarinya” diakses dari: https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-toxic-positivity
“Mengenal Apa Itu Toxic Positivity dan Cara Menghadapinya” diakses dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20211210115136-260-732396/mengenal-apa-itu-toxic-positivity-dan-cara-menghadapinya
Komentar
Posting Komentar