DAMPAK SINGLE PARENTS TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK DIMASA REMAJA
DAMPAK SINGLE PARENTS TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK DIMASA REMAJA
Oleh Fira Almira
Abstrak:
Pada masa remaja anak akan cenderung mengikuti kelompok
pertemanannya, agar remaja tidak terlibat dalam kenakalan remaja akibat
pergaulan yang tidak baik, peran orang tua dan keluarga sangat berpengaruh.
Namun, tidak semua remaja memiliki keluarga dengan orang tua utuh, sebagian
dari mereka hanya memiliki salah satu dari orang tua atau yang sering disebut
sebagai single parent. Fenomena single parent di berbagai negara
termasuk Indonesia umumnya disebabkan oleh perceraian. Di Indonesia perceraian
meningkat setiap tahunnya dengan meningkatnya perceraian maka meningkat pula
fenomena single parent. Penelitian
ini bertujuan untuk melihat apa saja dampak yang bisa muncul akibat keluarga
dengan orang tua single parent.
Mengingat banyaknya aspek dalam perkembangan remaja pada penelitian ini
peneliti hanya menitik beratkan pada perkembangan psikososial dan sosioemosi
remaja. Metode penelitian yang digunakan
adalah literature review menggunakan
data yang berasal dari handbook, textbook dan jurnal baik nasional maupun
internasional. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah bahwasanya single
parent memiliki dampak dalam perkembangan anak dimasa remaja terutama pada
tahap perkembangan psikososial dan sosioemosi. Keluarga single parent berdampak pada perubahan sikap dan perilaku remaja
terutama orang tua tunggal yang diakibatkan oleh perceraian. remaja juga akan
memiliki kematangan emosi yang cukup namun, cenderung memiliki sikap tertutup.
Keluarga dengan orangtua tunggal juga berdampak pada pembentukan identitas dan keterlibatan
dalam kenakalan remaja.
Kata Kunci: single parent, perkembangan remaja
PENDAHULUAN
Masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri, pada masa ini
seorang remaja memiliki semangat dan keinginan untuk mencoba hal-hal baru yang
sangat tinggi. Menurut Sharlock dalam bukunya mengatakan bahwa masa remaja
adalah masa transisi dalam rentan hidup manusia yang menghubungkan antara masa
kanak-kanak dan masa dewasa. [1]
Masa remaja juga ditandai dengan masa peralihan, kebanyakan dari
remaja akan merasakan bahwa dirinya sudah bukan lagi anak kecil dan harus
mengubah sikap kekanak-kanakanya namun, bukan mereka juga belum bisa disebut
sebagai orang dewasa masa remaja ini dianggap masa yang sangat penting karena
pada masa ini anak akan mengalami perubahan-perubaan menuju dewasa.
Pada masa ini remaja juga sudah harus mulai menghadapi
masalah-masalah sendiri tetapi karena kurangnya pengalaman dalam menghadapi
kehidupan, biasanya remaja akan memandang dan menyelesaikan masalah menggunakan
sudut pandang mereka sendiri. namun, karena sudut pandang mereka yang berbeda
dengan orang dewasa, hal inilah yang terkadang dapat mendorong remaja melakukan
hal-hal yang tidak diterima dalam norma sosial. Oleh karena itu orang tua harus
memperhatikan lingkungan pertemanan anak dimasa remaja ini.
Banyak pendapat mengatakan bahwa remaja yang sudah diambang dewasa
akan merasa dirinya tidak cukup untuk menjadi dewasa hanya karena bertindak dan
berpakaian seperti orang dewasa saja oleh karena itu terkadang mereka akan
mulai memilih untuk melakukan hal-hal yang sering dihubungkan dengan orang
dewasa seperti merokok, mengkonsumsi alkohol menggunakan obat-obatan dan
lainnya.[2]
Padahal hal tersebut bukanlah hal yang seharusnya mereka lakukan. Disinilah
peran orang dewasa sangat penting untuk membimbing dan mengarahkan remaja ke
arah perkembangan yang baik. Orang tua dan keluarga dinilai sebagai orang yang
sangat berperan dalam membimbing remaja di masa perkembangannya. Anak yang
biasanya dapat menyesuaikan diri dengan baik dengan
Keluarga merupakan kelompok utama yang terpenting dalam masyarakat.
Keluarga dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang disatukan dengan
pernikahan, darah, dan adopsi dalam satu rumah tangga yang berinteraksi satu
sama lain dengan kedudukan masing-masing, umumnya keluarga terdiri dari ayah,
ibu, dan anak.[3]
Keluarga juga merupakan lingkungan terdekat yang dimiliki seorang anak. David
Archard dalam Esther Dermott and tim Fowler mengatakan keluarga adalah kelompok
multigenerasi yang hidup bersama dimana orang tua mengambil peran dan tanggung
jawab terhadap anak-anaknya[4].
Orang tua memiliki peran yang seimbang dalam keluarga, ayah
memegang tanggung jawab dalam mencari nafkah sedangkan ibu memegang tanggung
jawab dalam urusan rumah tangga. Namun, tidak semua peran dalam keluarga
berjalan dengan baik terkadang juga menimbulkan masalah seperti perceraian,
pasangan meninggal, ditinggal suami atau istri dan lain-lain, dimana hal itu
membuat ayah atau ibu harus mengcover atau menggantikan peran pasangannya yang
sering disebut dengan single parent.
Single parent adalah seorang orang tua baik ayah atau ibu yang melakukan
tanggung jawab mengurus anak secara sendirian tanpa dukungan dari pasangan
lainnya.[5]
Hurlock dalam Losa mengatakan bahwa single
parent dapat disebabkan oleh berbagai hal contohnya memiliki anak diluar
nikah, pasangan yang meninggal, dan perceraian.[6] Di era
modern ini penyebab utama terjadinya fenomena single parent yaitu kehamilan diluar nikah, memilih untuk menjadi
single parent dan perceraian. Di Indonesia Perceraian merupakan alasan paling
umum seseorang menjadi single parent, dimana orang tua berpisah dan anak harus
memilih dengan siapa ia akan melanjutkan kehidupnya.
Menurut laman lokadata.id Mengatakan bahwa angka perceraian di
Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Menurut hasil data direktorat jenderal
badan peradilan agama, mahkama agung dalam periode tahun 2012-2020 menunjukkan
setiap tahun rata-rata dapat terjadi 360 ribu perceraian[7].
Sejalan dengan hal tersebut. Salsabila Rizky dan Nunung Nurwati dalam jurnalnya
yang berjudul dampak pandemic covid-19 terhadap angka perceraian mengatakan
bahwa terdapat kenaikan angka perceraian selama pandemic covid-19, setidaknya
terdapat 3000 warga melakukan gugatan perceraian yang mayoritas disebabkan oleh
perekonomian rumah tangga.[8]
Peningkatan perceraian ini berdampak pula pada peningkatan orang
tua yang berubah status menjadi single
parent. Fenomena yang seperti itu dapat mengubah situasi dalam kehidupan
keluarga, karena situasi keluarga yang telah berubah pastilah akan berdampak
pula pada perkembangan anak termasuk perkembangan anak dimasa remaja. Dimana pada
masa remaja ini anak memerlukan kedekatan dan bimbingan orang tua agar mereka
dapat terbuka dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangnnya dengan baik.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk membahas mengenai
dampak dari orang tua dengan status single
parents terhadap perkembangan anak dimasa remaja. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui apa saja dampak yang dapat timbul dari pengasuhan orang tua
yang berstatus single parent terhadap
perkembangan anak dimasa remaja.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
literature review. Literature review adalah metode yang
sistematis, eksplisit dan reprodusibel untuk melakukan identifikasi, evaluasi
dan sintesis terhadap karya-karya hasil penelitian pemikiran yang sudah dihasilkan
oleh para peneliti dan praktisi.[9]
Pada penelitian ini sumber data yang digunakan berasal dari
textbook, handbook dan data hasil penelitian jurnal nasional maupun
internasional yang berkaitan dengan tujuan penelitian yaitu dampak single parent terhadap perkembangan anak
dimasa remaja.
Pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui apa saja dampak yang
dapat ditimbulkan oleh orang tua single parent terhadap perkembangan anak
dimasa remaja. karena sangat banyaknya aspek perkembangan remaja peneliti menitik
beratkan penelitian ini pada perkembangan psikososial dan sosioemosi remaja.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh jurnal baik
nasional maupun internasional yang membahas mengenai dampak single parent pada
anak. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah jurnal yang membahas
mengenai dampak dari peran dan pola asuh single parent terhadap perkembangan
anak dimasa remaja.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa tahapan
yaitu pencarian artikel berdasarkan topik yang sesuai dengan tujuan penelitian
menggunakan kata kunci “single parent impact”, “penyebab single parent”,
“perkembangan remaja”, “perkembangan psikososial remaja”, “child development”.
Setelah itu dilakukan pengelompokan artikel berdasarkan relevansi dengan topik
yang ingin diteliti, terakhir membandingkan data yang saling berhubungan.
Pencarian jurnal dalam penelitian ini menggunakan google scholar,
neliti, researchgate dan sciencedirect. Total sumber data yang digunakan dalam
penelitian ini sebanyak 23 yaitu berasal dari 13 jurnal, 3 skripsi, 1 textbook,
dan 6 handbook.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Single Parent
Single parent dapat diartikan sebagai orang tua yang memerankan peran ganda
dalam keluarga tanpa dukungan dari pasangan. Soomar dan Shulaila mengatakan Single parent adalah seorang orang tua
baik ayah atau ibu yang melakukan tanggung jawab mengurus anak secara sendirian
tanpa dukungan dari pasangan lainnya.[10]
Sejalan dengan pengertian tersebut Duvall dan Miller mengatakan
bahwa single parent adalah orang tua yang secara sendirian membesarkan anak
tanpa dukungan dari pasangan. Sedangkan menurut Hurlock dalam Losa mengatakan
bahwa single parent adalah orang tua
yang telah ditinggal pasangannya dan menjadi duda atau janda lalu mengasumsikan
tanggung jawab untuk mengurus anak-anak setelah kematian pasangannya,
perceraian atau kelahiran anak diluar nikah.[11]
Menurut Dagun dalam Winda (2016: 11) mengatakan single parent adalah pria atau wanita yang membesarkan dan mengasuh
anak tanpa keberadaan atau dukungan dari pasangan akibat dari terjadinya
perpisahan dalam keluarga baik itu terjadi karena perceraian atau meninggalnya
salah satu pasangan.[12]
Berdasarkan definisi diatas dapat dikatakan bahwa single parents merupakan sebutan untuk
orang tua yang hanya terdiri dari satu orang dan memikul tugas keluarga, baik
sebagai kepala keluarga ataupun sebagai ibu rumah tangga yg memelihara dan
membesarkan anaknya sendirian tanpa dorongan dari pasangan.
Penyebab Single Parent
Pada umumnya penyebab terjadinya fenomena single parent adalah kehamilan yang tidak diinginkan, perceraian,
kehilangan pasangan baik disebabkan oleh meninggal dunia atau pergi
meninggalkan pasangannya.
Menurut Ali dan Soomar mengatakan ada banyak penyebab seseorang
menjadi single parent diantaranya
adalah perceraian, kehamilan dimasa remaja yang mengharuskan mereka untuk
menikah namun, karena pernikahan yang tidak erat maka tingginya angka
perceraian, dan kematian pasangan karena sakit.[13]
Coleman, Lawrence dan Aston mengatakan single parent dapat diakibatkan oleh perceraian atau perpisahan,
kematian, kehamilan yang tidak diinginkan, adopsi orang tua tunggal.[14]
Dengan tidak adanya pasangan hidup bersama dalam keluarga, orang tua tunggal
perlu untuk melakukan peran ganda baik pemenuhan kebutuhan sehari-hari maupun tanggung
jawab pengasuhan anak.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa single parent
dapat disebabkan atas kemauan sendiri dan keterpaksaan. Single parent atas kemauan sendiri yaitu adopsi dan memutuskan
untuk menjadi orang tua tunggal, sedangkan single
parent atas keterpaksaan bisa disebabkan oleh perceraian, kehamilan yang
tidak diinginkan, pasangan menderita sakit parah, dan kematian pasangan.
Macam-Macam Single Parent
Single parent dapat dibedakan menjadi dua yaitu single parent mother dan single
parent father. Single parent mother
adalah seorang ibu yang memerankan peran ganda, sedangkan single parent father adalah seorang ayah yang memerankan peran
ganda dalam keluarga. Pada umumnya disetiap negara jumlah single mother akan
lebih banyak dibandingkan single father.
Menurut Yusuf dkk (2020) di Amerika Serikat sekitar 85% keluarga single parent di dominasi oleh single mom sedangkan 16% nya adalah single father.[15]
Menurut Chiu dkk (2018) dalam penelitiannya mengatakan ada sekitar 330 ribu
atau 2,5 % dari 2,6 juta rumah tangga di Kanada yang dikepalai oleh single father. Di inggris ada sekitar 3
juta keluarga dengan status single parent
yang dimana 10% nya adalah single father.[16]
A.
Single
Parent Mother
Single parent
mother atau yang sering juga disebut
dengan single mom adalah gambaran
bagi seorang wanita yang melakukan berbagai peran dalam keluarga mulai dari
mengurus rumah tangga, mengurus anak dan juga mencari nafkah tanpa adanya
dukungan dari pasangan.[17] Sejalan dengan pengertian tersebut Santrock
dalam Winda (2016) mengatakan single
mother adalah orang tua tunggal yang harus menggantikan peran ayah sebagai
kepala keluarga, mengambil keputusan, mencari nafkah disamping perannya yang
juga mengurus rumah tangga, membimbing dan membesarkan anak.[18]
Seorang ibu akan disebut sebagai single mom apabila ketika ia bercerai dengan suaminya dan
mendapatkan hak asuh atas penjagaan anaknya, suami yang meninggal dan ia harus
meneruskan tugas membesarkan anaknya atau seorang ibu yang memiliki suami
dengan penyakit keras yang membuatnya harus menggantikan peran suami dalam
mencari nafkah. Biasanya single mom
dipandang lebih baik dalam mengurus anak dibandingkan dengan single father
namun, karena padangan ini pula single
mom dituntut untuk dapat melakukan semua hal dengan sempurna dan bagi single mom yang melakukan kesalahan
dalam pengasuhannya akan lebih banyak dihakimi dibanding dengan single father.
B.
Single
Parent Father
Single parent
father atau yang sering disebut dengan single father adalah seorang ayah yang
harus menggantikan peran ibu sebagai ibu rumah tangga yang mengerjakan
pekerjaan rumah dan mengurus, membimbing juga memenuhi kebutuhan anak. Menurut
Coles mengatakan bahwa single father
biasanya adalah seorang ayah yang bercerai dan mendapatkan hak asuh terhadap
anaknya.[19]
Single parent
father memang lebih sedikit dari pada
single mom bahkan jumlahnya tidak sampai dari 50% dari jumlah keseluruhan
single parent. Namun dalam pandangan sosial single parent father lebih banyak
mendapatkan pujian ketika ia dapat mengasuh anak-anaknya dengan baik
dibandingkan dengan single mom, dan cenderung akan dimaklumi jika melakukan
kesalahan dalam pengasuhan anaknya.
Berdasarkan ekperimen terhadap seorang ayah tunggal dengan tiga
anak bernama Daniel Ortega mengatakan
“ketika ia pergi keluar sambil mengasuh anaknya ia sering merasa tidak nyaman
dengan pandangan orang-orang tetapi ketika ia menjelaskan kalau ia adalah
seorang ayah tunggal seseorang akan berubah memberikan pujian dan mengatakan
good job, kau sangat baik, anak mu sangat beruntung namun, walaupun seperti itu
ia juga menambahkan jika ia tidak pernah mendengar pujian tersebut diberikan
kepada ibu tunggal”[20]
Masa Remaja
Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa.
Menurut Sarlock dalam bukunya mengatakan bahwa masa remaja adalah masa transisi
dalam rentan hidup manusia yang menghubungkan antara masa kanak-kanak dan masa
dewasa. [21]
Menurut Papalia dan Olds dalam putro masa remaja dimulai dari pada usia 12-13
tahun dan berakhir di usia awal 20-an.[22]
Menurut Hurlock masa remaja dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu masa
remaja awal sekitar usia sekitar 12-15 tahun, masa remaja menengah sekitar usia
15-18 tahun dan masa remaja akhir sekitar usia 18-21. Ciri-ciri masa remaja
menurut Hurlock yaitu:
- Masa remaja adalah periode penting karena pada masa ini akan
muncul banyak perubahan-perubahan pada anak.
- Masa remaja sebagai masa peralihan, yaitu peralihan dari tahap
kanak-kanak menuju dewasa, dimana mereka harus mulai menginggalkan sikap
kekanak-kanakannya.
- Sebagai periode perubahan, pada masa ini remaja akan
mengalami perubahan yang sangat pesat pada sikap, perilaku dan
fisiknya.
- Masa yang bermasalah, yaitu pada masa ini remaja akan mulai
mengatasi masalahnya sendiri namun, karena biasanya yang menyelesaikan
masalah mereka adalah guru dan orang tua membuat mereka tidak memiliki
pengalaman untuk menyelesaikan masalahnya, akhirnya membuat mereka berpikir bahwa
penyelesaian masalah tidak selalu akan sesuai dengan harapan.
- Sebagai masa pencarian identitas, pada masa ini remaja akan
mulai dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai dirinya dan apa
perannya dalam masyarakat.
- Masa yang menimbulkan ketakutan, yaitu stereotip bahwa remaja
adalah anak-anak yang tidak rapid an tidak dapat dipercaya membuat mereka
harus selalu dibimbing dan diawasi oleh orang dewasa.
- Sebagai masa yang tidak realistis, pada masa ini remaja akan cenderung
melihat seseorang dan sesuatu sesuai dengan
harapannya bukan sesuai dengan apa adanya.
- Sebagai masa ambang dewasa,
pada masa remaja akhir mereka terkadang merasa jika berpakaian dan
bersikap seperti orang dewasa saja tidak cukup untuk itu mereka akan mulai
mengikuti pada perilaku yang biasa dihubungkan dengan orang dewasa seperti
merokok, menggunakan obat-obatan, minum alkohol dan lainnya.[23]
Perkembangan Psikososial dan Sosio Emosi Masa Remaja
Perkembangan masa remaja dapat
dilihat dari berbagai aspek yaitu dari segi fisik, kognitif, dan psikososial.
Namun, dalam penelitian ini peneliti lebih menitik beratkan pada perkembangan
remaja dari segi psikososialnya.
A.
Konsep dan Identitas Diri
Berdasarkan teori Erikson pada masa ini remaja sedang dihadapkan
dalam pencarian identitas diri. Mereka sering kali menghadapi pertanyaan
mengenai siapa dan apa peran mereka. Pada masa remaja mereka seringkali
menghadapi pertanyaan mengenai siapa mereka sebenarnya dan pada masa ini juga
kebanyakan remaja mengalami krisis identitas. Perkembangan identitas diri pada
remaja ini dibagi menjadi dua maca yaitu group identity dan individual
identity. Group identity dilihat dari remaja dapat diterima oleh kelompoknya
dan memiliki status sedangkan individual identity remaja dapat menyatukan
berbagai perubahan tubuhnya ke dalam konsep diri, juga diperoleh dari
hubungannya dengan orang-orang pada masa lalu.
Erikson dalam teorinya menyatakan pada masa remaja ini anak sedang
berada di fase identity vs role confusion. Remaja biasanya memiliki semangat
dan minat berteman yang tinggi. Pada masa ini remaja juga berani untuk mencoba
hal-hal baru tanpa berpikir panjang dan selalu mencari-cari role model yang
nantinya akan mereka percayai. Namun, sayangnya walaupun pada masa ini remaja
sudah bisa memutuskan sesuatu mereka seringkali mudah dipengaruhi orang tua
atau teman-teman maka dari itu orang tua seharusnya memperhatikan circle
perteman anak karena remaja cenderung akan lebih banyak mendengarkan
teman-temannya.
B.
Keluarga dan Pola Asuh Orang Tua
Orang tua sangat berperan penting dalam perkembangan para remaja,
orang tua disarankan untuk memantau perkembangan remaja secara efektif dapat
dilihat dari mengawasi pilihan pergaulan sosial remaja, kegiatan, teman, dan
upaya akademis. Orang tua juga seharusnya membentuk komunikasi yang baik,
memperhatikan, memberikan bimbingan, dan memperhatikan remaja dengan penuh
cinta agar nantinya anak mau terbuka dengan orang tuanya karena pada masa ini
sebenarnya remaja sangat memerlukan perhatian dari orang-orang. Pada masa
remaja terkadang sering meningkatnya konflik antar remaja dan orang tua. Namun,
kemudian akan menurun ketika remaja mencapai usia 17-20 tahun.
Menurut Hurlock Pola asuh orang tua dalam keluarga dapat dibedakan
menjadi tiga jenis yaitu: pola asuh authoritarian (otoriter), pola asuh authoritative (demokratis) dan permisif.[24]
Pola asuh otoriter bercirikan orang tua membuat semua keputusan dan anak harus
tunduk pada keputusan orang tua. ciri pola asuh demokratis orang tua dan anak
sama-sama memiliki andil dalam memutuskan keputusan orang tua juga berperan
dalam mendorong anak untuk membicarakan apa yang mereka inginkan. Sedangkan
ciri pola asuh permisif orang tua membebaskan dan membiarkan anak melakukan apa
yang mereka inginkan sehingga anak memiliki kebebasan tanpa batasan yang
membuatnya berperilaku sesuai dengan keinginannya.
Orang tua sebaiknya memberikan pengasuhan authoritative humanis
demokratis pada remaja, orang tua memberikan ruang dua arah pada anak dan
menerima masukan dari anaknya dengan adanya pertimbangan-pertimbangan. Orang
tua juga hendaknya selalu memberikan pujian terhadap kelebihan yang dimiliki
anak.
C.
Teman Sebaya
Persahabatan dan pertemanan menjadi hal yang semakin penting dalam
memenuhi kebutuhan pada masa remaja. Pada masa remaja ini tekanan untuk
menyesuaikan diri dengan kelompok sebaya sangat besar terutama pada remaja
dikelas delapan dan Sembilan. Pada masa ini remaja juga cenderung sangat ingin
menjadi popular, suka menjadi pusat perhatian dan mulai suka bergosip dengan
teman sebayanya. Biasanya remaja akan sangat tertekan dan stress jika ia
ditolak dari kelompok pertemanannya karena remaja akan merasa percaya diri
ketika diterima oleh kelompoknya.
D.
Budaya, Media dalam perkembangan remaja
Tradisi dan perubahan yang terjadi pada remaja dapat berbeda di
berbagai negara. Remaja biasanya mengisi waktunya dengan kegiatan-kegiatan
berbeda tergantung dengan budaya dimana mereka tinggal. Seperti ritual
peralihan yang dilakukan para remaja laki-laki Congolese kota melukis wajah
mereka sebagai bagian dari ritual peralihan menuju dewasa[25].
Selain itu ada pula upacara perjodohan remaja di India, sekolah muslim di timur
tengan yang hanya terdiri dari remaja laki-laki, dan remaja jalanan di Rio de
Janaero.
Dalam buku Santrock tertulis bahwa rata-rata anak usia 8-18 tahun
di AS menghabiskan waktunya 6 ½ jam sehari untuk menggunakan media elektronik,
bahkan jika dihitung dengan multitasking seperti mungkin mereka bisa mengirim
chat ke temannya sambil menonton TV dan membersihkan ruma[26]h,
jika seperti itu kira-kira mereka bisa menggunakan media elektronik 8 jam
sehari. Remaja banyak menghabiskan waktunya untuk online bahkan bagi remaja
yang sudah lebih besar mereka mengurangi menonton TV dan lebih memilih
mendengarkan music, computer juga kecenderungan menggunakan media social.
E.
Permasalahan Remaja
Pada masa ini juga terdapatnya kenakalan remaja yaitu remaja yang
melanggar hukum atau terlibat dalam perilaku yang dianggap illegal. Penyebab
kenakalan remaja biasanya bisa karena status ekonomi rendah, pengalaman
keluarga yang negative, tinggal dengan saudara yang juga nakal, dan juga
pengaruh dari teman sebaya yang negative.
Selain dari kenakalan remaja ada pula masalah mengenai depresi dan
bunuh diri yang biasanya lebih tinggi pada masa remaja dan dewasa awal. Kasus bunuh diri pada remaja menjadi urutan
ketiga penyebab kematian di AS. Peneliti menemukan perilaku bermasalah masa
pada remaja biasanya memiliki satu atau lebih dari masalah seperti
penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja, masalah seksual, dan masalah terkait
sekolah.[27]
Dampak Single Parent Pada Perkembangan Psikososial dan Sosioemosi
Remaja
Sikap dan
Perilaku
Orang tua dengan status single parent karena berpisah dengan pasangan
pasti akan mengalami perubahan tidak hanya pada orang tua tapi juga pada
perilaku anak. Hadi dalam penelitiannya mengatakan anak dengan keluarga single parent akibat orang tua berpisah
akan cenderung mengalami perubahan sikap[28]
seperti contohnya anak yang awalnya periang berubah menjadi pendiam, yang
awalnya mandiri berubah menjadi manja, anak yang awalnya rajin berubah menjadi
malas. Hal tersebut karena yang awalnya mereka memiliki orang tua lengkap dan
berperan dengan baik dalam keluarga tiba-tiba mereka kehilangan sosok salah
satu orang tuanya dan membuat orang tua tunggalnya harus memerankan peran
ganda.
Menurut Samiyah Hamam dalam Hadi (2019: 305) mengatakan bahwa umumnya ada beberapa karakter anak yang tidak diasuh oleh keluarga dengan orang tua lengkap yaitu:
- Anak akan cenderung memiliki sikap cemburu, pada awalnya kecemburuan itu hanya sebatas cemburu dengan teman yang bisa menikmati kasih sayang dari orang tua utuh namun, jika berlanjut hal tersebut dapat menimbulkan rasa dengki, benci dan lainnya;
- Jika single parent terjadi karena perceraian biasanya anak akan cenderung merasa tidak memiliki identitas, karena ketika orang tua berpisah anak akan merasa harus membagi kesetiaannya diantara kedua orang tua dna membuatnya seakan kehilangan identitas;
- Timbulnya sikap menutup diri pada anak.[29]
Kematangan
Emosi
Menurut hasil penelitian Anggraini (2018) yang berjudul “Kematangan
emosi remaja yang memiliki orang tua tunggal” mengatakan gambaran kematangan
emosi anak dengan single parent dapat dilihat dari kemandirannya, kemampuan
beradaptasi, keterampilan sosial, kemampuan koping, empati, dan kontrol emosi.[30]
Tinggal bersama orang tua single parent terkadang membuat remaja
memiliki sikap mandiri namun, dibalik sikap mandiri tersebut biasanya akan
membuat remaja lebih tertutup dan memendam sendiri masalah yang sedang
dihadapi. Sama seperti remaja pada umumnya mereka juga dapat bertanggung jawab
atas keputusan yang diambil namun, kurang mampu menentukan pilihan yang tepat
untuk diri sendiri dan masih kesulitan dalam menemukan jalan keluar dari
permasalahan yang dihadapi karena mereka cenderung diam dan tidak
membicarakannya pada orang lain.
Kemampuan beradaptasi anak dengan keluarga single parent menurut
hasil penelitian Anggraini (2018) Mengatakan remaja dengan keluarga single
parent masih cenderung menghindari situasi yang menurutnya tidak sesuai dengan
dirinya namun, mereka dapat menerima keberagaman.[31]
Dalam menyelesaikan persoalan, remaja dengan keluarga single parent cenderung memiliki
strategi koping yang kurag baik, menurut hasil penelitian Anggraini (2018)
mereka kurang mampu menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi dan lebih
memilih untuk menyendiri.[32]
Remaja dengan keluarga single parent memiliki keterampilan sosial
yang cukup baik. Mereka memiliki keterampilan menjalin hubungan baik dengan
orang lain namun, sulit untuk memulai percakapan. Mereka juga akan cenderung
peka dengan emosi orang lain walaupun terkadang tidak ingin terlibat dalam
persoalannya. Jika dilihat dari kemampuan empatinya anak dengan keluarga single
parent cenderung mampu memahami pikiran dan perasaan orang lain namun, kurang
bisa memberikan respon yang tepat terhadap situasi.
Kemampuan mengontrol emosi anak dengan keluarga single parent dapat
dikatakan cukup baik. Mereka biasanya memiliki kemampuan yang cukup untuk
memahami emosi yang mereka rasakan namun, tidak bisa mengekspresikannya secara
tepat. Dalam beberapa kasus ada juga anak dengan keluarga single parent kurang
mampu untuk memahami dan mengekspresikan secara tepat emosi yang ia rasakan.
Konsep dan
Identitas Diri
Menurut teori Erikson anak dimasa remaja ini sedang berada pada
tahap identity vs role confuse yaitu tahap dimana pencarian identitas remaja
seringkali dihadapkan dengan pertanyaan mengenai diri mereka sendiri. Pada
tahap ini juga mereka akan mulai mencari role model yang nantinya akan mereka
percayai, jika pada tahap ini mereka gagal maka akan timbullah krisis identity.
Agar remaja dapat menemukan identitas dirinya dan terhindar dari krisis
identitas maka perlunya dukungan dan bimbingan dari orang tua. Dalam
perkembangan remaja figure ayah dan ibu memiliki perannya masing-masing. Anak
laki-laki akan menjadikan ayah sebagai panutannya untuk menjadi seorang
laki-laki dikehidupan nantinya. Bagi anak perempuan dengan ayah yang
mendampingi masa perkembangan remajanya akan dapat memahami dan cara bersikap
dan merespon lawan jenis. Begitu pula peran ibu bagi anak ibu adalah sosok
teladan dan panutan.
Berdasarkan hasil penelitian Supratman (2015) Remaja dengan orang
tua tunggal yang telah menanamkan konsep diri dan nilai-nilai positif dari
kecil akan memiliki hubungan yang lebih personal dengan orang tuanya. Mereka
juga akan menjadi lebih aware
mengenai kondisi keluarganya dan mulai menerima keluarganya yang tidak utuh.
Begitu pula bagi remaja dengan keluarga single parent akibat perceraian mereka
tidak akan lama berlarut-larut dan menunjukan dirinya bahwa mereka dapat
berhasil bangkit dari keterpurukan. Mereka juga akan memaknai perceraian orang
tuanya dengan menjadi remaja yang tidak melakukan hal-hal melukai diri dan
memiliki nilai kebaikan dalam konsep diri religious, independent, futuristik
dan maturitas.[33]
Identitas Diri
dan Pola Asuh Single Parent
Pencapaian identitas remaja dengan orang tua tunggal dapat dilihat
dari pola asuh yang diterapkan. Sama seperti jenis-jenis pola asuh yang
digunakan orang tua pada umumnya namun, terdapat perbedaan dalam peran ganda
dan pengambilan keputusan, keluarga dengan orang tua tunggal harus memutuskan
sendirian keputusan yang akan dipilih tanpa dukungan dari pasangan.
Berdasarkan hasil penelitian Amril (2018) yang berjudul “Pencapaian
Identitas Remaja dari Orang Tua Tunggal” Mengatakan bahwa orang tua tunggal
yang memerankan peran ganda seringkali tidak yakin pada kemampuannya untuk
mendidik dan membimbing anak akibatnya orang tua menjadi tidak konsisten dan
berakibat pada anak. Anak akan menjadi kurang percaya diri, merasa tidak
bahagia, prestasi yang menurun dengan menerapkan pola asuh permisif dapat
membuat anak. Amril dalam penelitiannya juga menambahkan jika pola asuh
demokratif atau authoritative adalah
pola asuh yang tepat untuk membantu remaja mencapai identitas dirinya khususnya
pada identitas achievement.[34]
Kenalakan
Remaja dan Single Parent
Kenakalan remaja dapat dipengaruhi oleh banyak aspek yaitu pengaruh
teman sebaya, lingkungan dan keluarga. Pada masa ini remaja sangat dipengaruhi
oleh teman sebayanya, remaja akan cenderung mengikuti hal-hal yang dilakukan
dalam kelompok teman sebayanya, disini orang tua berperan penting agar anak
tidak terikut dalam circle pertemanan yang salah. Orang tua baik dari keluarga
dengan orang tua utuh maupun orang tua tunggal seharusnya memberikan bimbingan
dan perhatian lebih pada remaja.
Remaja dengan keluarga single parent yang positif dan mendapatkan
perhatian cukup cenderung tidak akan mudah terlibat dalam kenakalan remaja.
Namun, keluarga single parent dengan perhatian yang kurang cenderung akan
membuat remaja merasa kesepian berada dirumah dan lebih memilih untuk berada
diluar rumah bersama teman-temannya. Dikarenakan ketidak seimbangan peran dari
orang tua single parent berakibat pada kurangnya pengawasan terhadap aktivitas
remaja ditambah lagi jika remaja berada dalam pergaulan yang salah dapat
membuat remaja dengan keluarga single parent sangat rentan terlibat dalam kenakalan
remaja.
Berdasarkan hasil penelitian Shundy (2015) Mengatakan bahwa
terdapat perbedaan pola pengasuhan dari single
father dan single mother yang
dapat membuat anak rentan terlibat dalam kenakalan remaja.[35]
A.
Single Father
Menurut hasil penelitian Shudy remaja yang hidup dalam keluarga
dengan single father dengan memiliki komunikasi yang kurang, ayah tidak
memberikan control secara langsung terhadap kegiatan anak remaja, dan tidak
menerapkan peraturan dan hukuman pada anak dapat berdapak pada kenakalan remaja.
Bentuk kenakalan remaja yang biasanya dilakukan oleh remaja dengan keluarga
single father adalah melawan status dan kenakalan social yaitu merokok, minum
alcohol, bolos sekolah dan lain-lain. Untuk mengatasainya orang tua single
father dapat membentuk hubungan yang lebih dekat dengan anak dengan
meningkatkan komunikasi agar remaja tidak rentan terikut dalam kenakalan
remaja.
B.
Single Mother
Remaja dengan keluarga single mother cenderung memiliki komunikasi
yang berjalan dengan baik tetapi tidak hangat, ibu tunggal juga biasanya tetap
memberikan kontrol terhadap apa yang dilakukan oleh anaknya namun, terkadang
masih memberikan kelonggaran diwaktu bermain. Ibu tunggal yang menerapkan
peraturan dan hukuman tetapi kurang konsisten dalam penerapannya dapat membuat
anak sering melanggar peraturan yang dibuat.
Hal tersebut dapat membuat remaja rentan terlibat dalam kenakalan
remaja. bentuk kenakalan remaja yang biasanya dilakukan oleh anak dengan
keluarga single mom adalah merokok, pulang larut malam, mengganggu kenyamanan
umum dan bergelandang dijalanan. Untuk mengatasi hal tersebut single mom dapat
menerapkan peraturan secara konsisten dan meningkatkan pengawasan terhadap apa
yang dilakukan oleh anak.[36]
KESIMPULAN
Pada masa remaja anak akan cenderung mengikuti hal-hal dalam
kelompok pertemananya, agar remaja tidak terlibat dalam kenakalan remaja akibat
pergaulan yang tidak baik, peran orang tua dan keluarga sangat berpengaruh.
Namun, remaja dengan orang tua single parent yang kurang dalam memberikan
perhatian dapat memberikan dampak pada perkembangan remaja. Single parent
merupakan orang tua baik ayah atau ibu tunggal yang memerankan peran ganda.
Orang tua tunggal dapat memberikan dampak pada perkembangan remaja
terutama pada tahap perkembangan psikososial dan sosioemosinya. Remaja dengan
orang tua single parent akibat perceraian akan cenderung mengalami perubahan
sikap dan perilaku, mereka juga akan cendrung memiliki sikap cemburu dan
tertutup. Keluarga single parent juga dapat berdampak pada kematangan emosi
remaja, mereka akan cenderung memiliki sikap mandiri namun, karena kemandirian
itu pula mereka memiliki sifat tertutup dan lebih memilih untuk memendam
permasalah mereka sendiri. Remaja dengan orang tua tunggal memiliki kemampuan
beradaptasi dan mengenai emosi cukup baik, mereka dapat mengetahui perasaan
yang mereka rasakan namun, kurang bisa mengekspresikannya dengan tepat.
Pembentukan identitas diri dimasa remaja. remaja dengan keluarga
single parent akan sedikit kesulitan dikarenakan tidak adanya salah satu figure
dari orang tua. pola asuh yang diberikan oleh orang tua uga dapat mempengaruhi
pembentukan identitas diri dimasa remaja ini. namun, masih banyak para single
parent yang meragukan kemampuannya dalam mendidik anak dan akhirnya menimbulkan
ketidak konsistenan dan berdampak pada perkembangan remaja, mereka akan
cenderung menjadi kurang percaya diri, merasa tidak bahagia, prestasi yang
menurun.
Walaupun single parent
memiliki dampak negative terhadap perkembangan pembentukan identitas diri
remaja, remaja dengan orang tua tunggal yang telah menanamkan konsep diri dan
nilai-nilai positif dari kecil akan memiliki hubungan yang lebih personal
dengan orang tuanya. Mereka juga akan menjadi lebih aware mengenai kondisi keluarganya dan mulai menerima keluarganya
yang tidak utuh.
Kenakalan remaja sering dihubungkan dengan keluarga single parent,
bahkan terkadang seringkali didapati bahwa kenakalan remaja merupakan produk
dari keluarga single parent. Sebenarnya keluarga single parent bukanlah hal
utama yang dapat membuat anak terlibat dalam kenakalan remaja. keluarga
berperan penting dalam membimbing anak di masa remaja ini agar tidak terikut
dalam kenakalan remaja. keluarga dengan single parent yang kurang memberikan
perhatian pada remaja membuat mereka merasa kesepian saat dirumah akhirnya
mereka sering pergi dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman.
Jika anak berada dalam circle pertemanan yang salah dan hidup bersama orang tua
tunggal yang kurang memperhatikan, hal ini lah yang membuat remaja sering
terlibat dalam kenakalan remaja.
Dampak kenakalan remaja akibat pengasuhan keluarga single parent
dapat berbeda. Remaja dengan keluarga single father yang kurang memperhatikan
biasanya akan memunculkan sifat kenakalan remaja seperti membolos, merokok,
meminum alkohol dan lain-lain. Sedangkan remaja dengan keluarga single mother
yang kurang memperhatikan biasanya akan memunculkan kenakalan remaja seperti
pulang larut malam, mengganggu kenyamanan umum dan bergelandang di jalanan.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Shulamaila Khadim and Sarmad
Muhammad Soomar. 2019. Single Parenting: Understanding Reasons and
Consequences. JOJ Nurse Health Care 10(2), 001-003
Amrill. 2018. Pencapaian
Identitas Remaja dari Orang tua Tunggal. Jurnal bimbingan dan konseling
3(1), 20-32
Anggraini, Rosita. 2018. Kematangan
emosi remaja yang memiliki orang tua tunggal. Skripsi program studi
bimbingan konseling universitas sanata dharma. Yogyakarya
Biomed, Zulvikar Symbani Ulhaq M,
dan Mayu Rahmayanti. 2020. Panduan Penulisan Skripsi Literatur Review.
Fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan universitas islam negeri maulana malik
Ibrahim
Bornstein, Marc H. 2002. Being
and Becoming a Parent edition 3. Handbook of parenting. London: Lawrwnce Erlbaum
Associates
Chiu, Maria dkk. 2018. Mortality
in Single Fathers Compared With Single Mothers and Partnered parend: a
population-Base Cohort Study. Articles lacet public health 3, e115-23
Coleman, Marilyn J. Coleman Lawrence
H. Ganong, dan Aston Chapman. 2015. The
Social History of the Amarican Family: An Encyclopedia single parent Family.
Thousand Oaks: SAGE Publication, Inc
Coles, Roberta L. 2015. Single
Father Families: A Review of the Literature. Journal of family theory and
review 7(2), 144-166
Dermott, Esther and Tim Fowler.
2020. What is the Family Why does it Matter?. Article Social Sciences 9
(83), 1-11
Dewi, Listia. 2017. Kehidupan
keluarga single mother. SCHOULID Indonseia Journal of School Counseling
2(3), 44-48
Duvall E R M, Miller B C. 1985. Marriage
and Family Development. New York (US): Harper & Row
Hadi, Warsito. 2019. Peran Ibu
single dalam membentuk kepribadian anak: kasus dan solusi. Jurnal pemikiran
dan pendidikan islam 9(2), 301-320
Hurlock, E. B. 1974. Personality
Development. New York: Tata McGraw Hill
Hurlock, E.B. 1997. Perkembangan
Anak, Jilid I Edisi ke-6, Jakarta: Erlangga
John, Wajim. 2020. Single
Parenting and Its Effects on the Development of Children In Nigria. The
Internatonal Journal of Social Sciences and Humanities Invention 7(03).
5891-5902
Putro, Khamim Zarkasih. 2017. Memahami
Ciri dan Tugas Perkembangan Masa Remaja. jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama
17(01). 25-32
Ramadhani, Salsabila Rizky dan
Nunung Nurwati. 2021. Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Angka Perceraian.
Jurnal Pengabdian dan Penelitian Kepada Masyarakat. 2(01), 88-94
Santrock. 2011. Life Spam
Development” edisi 13 jilid 1. New York: Tata McGraw Hill
Shudy, Baghas Tigara Akbar. 2015. Pengasuhan
single paret pada kasus kenakalan remaja. skripsi fakultas psikologi
universitas muhammadiah Surakarta. Surakarta
Supratman, Lucy Pujasari. 2015. Konsep
diri remaja dari keluarga bercerai. Jurnal penelitian komunikasi 18(2),
129-140
T. Ooms & S. Preister, Eds.
1988. A consensus report of the Family Criteria Task Force. Washington,
DC: Family Impact Seminar
Wong, Siu Kwong. 2017. The Effect
of Single Mother and Single Father Families on Youth Crime: Examining Five
Gender Related Hypotheses. International Journal of Law, Crime and Justice
50, 46-60
Yusuf, Husmiati dkk. 2020. Impact
of Single Mother Family on Child Development: a Review Literature. PJAG
PalArch`s Journal of Archaeology of Egypt 17(10), 1985- 1994
Alan John Barnard. “family” diakses pada 13/12/2021 dari:https://www.britannica.com/topic/family-kinship
Maharrani, Anindhita 24/07/2021 “perceraian turun drastic saat
pandemic” diakses pada tanggal 14/12/2021 dari: https://lokadata.id/artikel/perceraian-turun-drastis-selama-pandemi-ternyata-ini-kendalanya
Maressa Brown. 25/11/2019. “single mom vs single dads: Examining
the double standard of single parenthood. Diakses pada 15/12/2021 dari: https://www.parents.com/parenting/dynamics/single-parenting/single-moms-vs-single-dads-a-look-at-the-double-standards-of-single-parenthood-how-we-can-do-better/
[1]
Santrock “Life Spam Development”
edisi 13 jilid 1 2011 hal. 402
[2]
Khamim Zarkasih Putro, Memahami Ciri dan
Tugas Perkembangan Masa Remaja jurnal aplikasi ilmu-ilmu agama vol 17, no
1. 2017. hlm 28
[4]
Dermott, Esther and Tim Fowler. What is
the Family Why does it Matter?. Article Social Sciences 9 (83). 2020 hlm.
02
[5]
Shulaila Khadim and Sarmad Muhammad Soomar, “Single Parenting: Understanding Reasons and Consequences” vol 10.
No 2 Januari 2019, 001
[6] Tirza
Juwita Losa, “Pola Komunikasi Ibu Single
Parent Terhadap Pembentukan Konsep Diri Anak Di Kelurahan Tingkulu”
e-jurnal acta diurnal vol 5 no 2 2016,
[8]
Salsabila Rizky Ramadhani dan Nunung Nurwati, “Dampak Covid-19 terhadap angka perceraian” 2 (1) hlm 90
[9] Zulvikar Symbani Ulhaq dan Mayu Ramhmayanti. Panduan Penulisan Skripsi Literature Review.
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 2020. Hlm 4
[10]
Shulaila Khadim and Sarmad Muhammad Soomar, “Single Parenting: Understanding Reasons and Consequences” vol 10.
No 2 Januari 2019, 001
[11] Tirza
Juwita Losa, “Pola Komunikasi Ibu Single
Parent Terhadap Pembentukan Konsep Diri Anak Di Kelurahan Tingkulu”
e-jurnal acta diurnal vol 5 no 2 2016,
[12]
Melfa Winda. Peran Ganda
Single Father. Skripsi Universitas Medan Area 2016. hlm. 11
[13]
Shulaila Khadim and Sarmad Muhammad Soomar, “Single Parenting: Understanding Reasons and Consequences” vol 10.
No 2 Januari 2019, 001
[14]
Marilyn J Coleman, Lawrence H. Ganong dan Aston Chapman. The Social History of the American Family: An Encyclopedia single parent.
Thousand Oaks: SAGE Publication, Inc hlm. 3
[15]
Husmiati Yusuf dkk. Impact of single
mother family on child development: a review literature. 2020 hlm. 1986
[16] Maria
Chiu dkk. Mortality in single father
compared with single mother and partnered parents: a population-base cohort
study. Article Lacet Public Health. 2018 hlm. e115
[17]
Listia Dewi. Kehidupan single mother.
SCHOULID: journal of School Counseling. 2(3). 2017 hlm. 45
[18] Melfa
Winda. Peran Ganda Single Father.
Skripsi Universitas Medan Area 2016. hlm. 11
[19]
Roberta L Coles. Single Father Families: A Review of the Literature. Journal of family theory and review
7(2). 2015 hlm. 5
[20] https://www.parents.com/parenting/dynamics/single-parenting/single-moms-vs-single-dads-a-look-at-the-double-standards-of-single-parenthood-how-we-can-do-better/
[21]
Santrock “Life Spam Development” edisi 13
jilid 1 2011 hal. 402
[22]
Khamim Zarkasih Putro, Memahami Ciri dan
Tugas Perkembangan Masa Remaja jurnal aplikasi ilmu-ilmu agama vol 17, no
1. 2017. hlm 25
[23]
Hurlock, E.B., Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan, Jakarta :Erlangga, 1993 hlm. 221
[24]
Hurlock, E. B. Personality Development. New York: Tata McGraw Hill. 1974
[25]
Santrock “Life Spam Development” edisi 13 jilid 1 2011 hlm 452
[26]
Ibid hlm 455
[27]
Santrock “Life Spam Development” edisi 13 jilid 1 2011 hlm 458
[28]
Warsito Hadi. Peran Ibu single dalam membentuk kepribadian anak: kasus dan
solusi. Jurnal pemikiran dan pendidikan islam 9(2). 2019 hlm. 303
[29]
Warsito Hadi. Peran Ibu single dalam membentuk kepribadian anak: kasus dan
solusi. Jurnal pemikiran dan pendidikan islam 9(2). 2019 hlm. 306
[30]
Rosita Anggraini. Kematangan emosi remaja yang memiliki orang tua tunggal.
Skripsi prodi bimbingan konseling universitas sanata dharma. 2018
[31]
Ibid 88
[32]
Ibid 90
[33] Lucy
Pujasari Supratman. Konsep diri remaja dari keluarga bercerai. Jurnal
penelitian komunikasi 18(2) hlm. 139
[34]
Amrill. Pencapaian Identitas Remaja dari Orang tua Tunggal. Jurnal bimbingan
dan konseling 3(1). 2018 hlm 31
[35]
Baghas Tigara Akbar Shudy. Pengasuhan single parent
pada kasus kenakalan remaja. skripsi fakultas psikologi universitas muhammadiah
Surakarta. 2015 hlm. 13
[36]
Baghas Tigara Akbar Shudy. Pengasuhan
single parent
pada kasus kenakalan remaja. skripsi fakultas psikologi
universitas muhammadiah Surakarta. 2015
Komentar
Posting Komentar