Duniaku
Oleh : Wafda Syukriah Sinar rembulan terhalang oleh senyumnya. Oh, dia tampak sangat tampan dengan sehelai rambut yang jatuh di antara mata binarnya. Sinar rembulan seolah tidak terlalu bersinar secerah senyumnya. Sendunya suara gemerisik daun pohon yang menari tak semerdu suaranya yang membicarakan bagaimana indahnya dunia. Dia cinta dunia. Dia bilang dunia ini terlalu indah untuk dibenci. Aku hanya tersenyum melihatnya. Betapa manisnya dia menatap dunia dengan segala getir hidupnya. Aku rasa aku akan mengutuk dunia jika kami bertukar pikiran. Dia yang diperlakukan semena-mena oleh manusia bernama “Orang tua” masih saja bisa optimis dengan dunia. Heran dengan segala senyum tulusnya tentang dunia, bulan, dan bintang. Andai saja ia tau dia lebih berharga daripada dunia yang jahat padanya itu. Dia duniaku. Dia semestaku. Dia Adinata. Malam ini kami menyelesaikan tugas bersama-sama untuk mata pelajaran esok. “ Waffle sudah berapa ...