Duniaku

Oleh : Wafda Syukriah

Sinar rembulan terhalang oleh senyumnya. Oh, dia tampak sangat tampan dengan  sehelai rambut yang jatuh di antara mata binarnya. Sinar rembulan seolah tidak terlalu  bersinar secerah senyumnya. Sendunya suara gemerisik daun pohon yang menari tak semerdu suaranya yang membicarakan bagaimana indahnya dunia. Dia cinta dunia. Dia  bilang dunia ini terlalu indah untuk dibenci. Aku hanya tersenyum melihatnya. Betapa  manisnya dia menatap dunia dengan segala getir hidupnya. Aku rasa aku akan mengutuk  dunia jika kami bertukar pikiran. Dia yang diperlakukan semena-mena oleh manusia  bernama “Orang tua” masih saja bisa optimis dengan dunia. Heran dengan segala senyum  tulusnya tentang dunia, bulan, dan bintang. Andai saja ia tau dia lebih berharga daripada  dunia yang jahat padanya itu. Dia duniaku. Dia semestaku. Dia Adinata. 

Malam ini kami menyelesaikan tugas bersama-sama untuk mata pelajaran esok.  “Waffle sudah berapa lama memandang Nata?” Tanyanya dengan polesan sedikit tawa  riang. Waffle adalah panggilan khusus untuk namaku darinya. Namaku tidak ada  hubungannya dengan makanan enak itu. Tapi, Nata bilang waffle itu, selain rasanya yang  enak, dia juga unik. Namaku adalah Lana. 

“Entahlah. Lana rasa sejak Nata membicarakan bagaimana indahnya dunia.”  Ujarku sambal tersenyum. Masih menatapnya. 

Nata tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Tapi bagaimana tanggapan  Waffle tentang dunia?” Tanyanya. 

“Lana rasa selain kejam, dunia itu berlebihan.” Jawabku. 

Dia hanya tersenyum dan menatap bayangannya sambIl berjalan. Nata sudah tau  bagaimana aku hanya membenci dunia. Ia hanya masih optimis dengan jawabanku. “Dan  apa penjelasan lengkapnya dari dunia yang berlebihan?” Tanyanya lagi. 

“Lana pikir dunia itu tidak pantas untuk orang-orang baik. Lana pikir dunia itu  berlebihan dalam memberi cobaan. Lana pikir dunia itu berlebihan juga dalam memberi  pertanyaan tentang hidup.” Jawabku lagi. “Omong-omong, Nata belum menjawab  pertanyaan Lana sebelumnya tentang bagaimana perasaan Nata setelah menyelesaikan 

tugas sekolah kita?” Tanyaku mengganti topik. Aku penasaran karena kurasa Nata  menyembunyikan sesuatu. 

Nata terdiam sejenak. Ia tampak bingung menjawab pertanyaan. “Baik. Senang  bisa pulang ke rumah setelah menyelesaikan tugas panjang.” Jawabnya. Kami  menyelesaikan tugas di café dekat sekolah. 

“Bagaimana dengan Orang tua Nata? Apa mereka sungkan bila Nata pulang  malam?” Tanyaku. 

“Bulan di malam ini indah ya, Na!” Ujarnya lirih mengganti topik sambIl  mempercepat langkahnya. “Nata heran bagaimana ia selalu bersinar. Pasti bulan  sebenarnya lelah selalu menyinari langit malam.” Lanjutnya tergesa-gesa. 

Ada yang tidak beres. Aku tahu Nata menyembunyikan sesuatu. “Nata, tolong!  Bisakah kamu menjawab pertanyaanku dulu?!” Tegasku menghentikan langkah kami  berdua. “Apa Orang tuamu akan memukulmu lagi? Apa belum juga usai perlakuan kejam  mereka? Apa kamu tidak baik-baik saja?!” Tanyaku sambil menahan tangis. Aku tahu.  Aku tahu Nata tidak baik-baik saja. 

“Lana, bisakah kita menghentikan perbincangan ini?” Tanyanya lirih. “Tidak! Tidak sampai aku tahu kau baik-baik saja!” Jawabku tegas. 

Aku pun menarik tangannya dan menekan punggungnya. Memastikan apakah dia  kesakitan atau tidak. Kalau iya, itu tandanya Orang tuanya berulah lagi memukulnya. Dan  akhirnya Nata pun berteriak kesakitan saat aku menyentuh punggungnya. 

“Bisakah kau sebentar saja tidak mengurusi kehidupanku!” Marahnya. 

Frustasi di wajahnya yang memerah dan air mata yang menggenang di mataku.  Ini tidak adil. Aku tahu Nata tidak memiliki kesalahan yang bisa menjadi alasan untuk  Orangtuanya bisa memperlakukan anaknya seperti ini. Bahkan kenakalan anak yang  terkadang wajar pun tidak pantas menerima perlakuan sekejam ini. 

“Nata …” Lirihku. 

“Tolong lepaskan aku dan biarkan aku pulang!” Gumamnya lirih juga. “Setidaknya ceritakan padaku dulu. Kumohon …” Pintaku.

“Apa yang ingin diperjelas?’ 

“Beritahu perasaanmu! Keluhkan semuanya padaku. Kumohon …!” Pintaku 

Nata terdiam sambil memandang kosong. “Tolong … Biarkan aku pulang.”  Pintanya memohon. 

‘Setidaknya katakan perasaanmu tentangku!” Pintaku frustasi sambil sedikit  terisak. “Aku mungkin tidak pantas ikut campur urusanmu. Tapi aku berhak tahu  perasaanmu tentangku! Aku berhak tahu apakah aku duniamu! Aku berhak tahu apakah  aku alasanmu bahagia!” Isakku. 

“Lana-“ 

“Tolonglah, Nat!” 

“Lana ada yang memperhatikan kita!” Tegasnya sambil berbisik. 

Tidak! Ini pasti hanya akal-akalan Nata saja! Supaya dia tidak harus menjawab  semua pertanyaanku. Supaya dia bisa kabur dan membawa perih lukanya sendiri. Supaya  dia tidak harus menjawab aku adalah dunianya. Supaya Adinata menjadi Adinata. Si  lelaki tangguh yang tidak suka menjawab pertanyaan rumit tentang keperihan. 

Kami telah berteman selama tiga tahun. Tapi kurasa hubungan kami bukan  sekedar teman. Aku tahu ada rasa di antara kami. Kupikir aku akan menikmati saja  perasaan kami yang terpendam ini. Tapi bagiku lama-lama sesak. Ia memilih  memanggilku dengan sebutan “Waffle” karena katanya aku adalah manusia favorite-nya.  Sama seperti waffle adalah makanan favorite-nya. Ia juga pernah bilang “Mungkin Waffle bisa menjadi dunianya seseorang. Karena Waffle itu indah.” Andai Nata tahu, Lana hanya  ingin menjadi dunianya Nata. Nata tahu Lana membenci dunia tapi dunia Lana tiba-tiba  cerah ketika mendengar suara Nata. Ketika melihat rambut ikal Nata yang terkadang  berantakan. Ketika melihat senyum girang Nata memakan es krim waffle bersama Lana  di hampir setiap sore. Lana tahu bibir tebal merah yang selalu melontarkan senyum tawa  riang itu menyimpan isak tangis. Lana tahu mata binar dengan bulu mata lentik itu  menahan air mata setiap kali Lana tanya soal Orang tua Nata. Orang tua Nata tidak layak  menjadi orang tua. Lana tahu Orang tua Nata kasar. Kejam bahkan. Kami tinggal  bersebelahan dan jerit Nata dan suara pukulan keras sering terdengar ke rumah Lana. Tapi tidak. Tidak sepatah kata pun Nata membahas soal itu. Beritahu aku Nata. Beritahu isi  hatimu. Beritahu kesakitanmu. Beritahu bibiurmu tidak selalu melontarkan senyum.  Beritahu aku mata indahmu tidak selalu menyinarkan binar. Beritahu aku semuanya.  Kumohon … 

Tiba-tiba sergap langkah dua orang pria bertubuh besar menyergap kami berdua.  Dan tangan-tangan besar mereka menyekap mulut kami. Dan dunia tak lagi hanya gelap,  namun juga suram. 

… 

Suara teriakan lelaki kesakitan dan suara pukulan keras menyambut pendengeran  dan memaksaku untuk bangun. Bau usang rumah terbengkalai juga menyambut  penciuman. Namun mulutku dibekap. Tangan dan kakiku diikat. Mataku juga ditutup. 

“Tolong!” Gumamku berusaha untuk berteriak. Namun kain yang menyekap  mulutku menghalangi. 

“Lana! Lana kau akan baik-baik saja, okay! Semuanya akan baik-baik saja. Kau  hanya perlu diam dan turuti perintah merek- AH!” Teriak seorang pria. Itu Nata! Aku  yakin itu Nata! Apakah dia dipukuli? Oh tidak duniaku dipukuli. 

“Nata! Nata apa itu kamu? Apa yang terjadi?” 

Suara teriakan dan suara pukulan itu tiada henti. Itu terdengar seperti rotan yang  mencambuk punggung seseorang. Suaranya nyaring. Berkali-kali. Tangisku pecah. Tidak  bisa! Tidak bisa seperti ini! 

“Pukul aku! Lepaskan dia!” Aku mencoba berteriak di tengah kain yang mengikat  mulutku. Setidaknya suaraku masih bisa terdengar. 

“Tidak! Jangan! Jangan pukul dia!” Tepis Nata sambil merintih kesakitan. 

Aku hanya bisa menangis sembari mendengar jerit Nata dan suara pukulan yang  terus menerus tak henti. Jeritan Nya semakin menyayup. Duniaku mulai redup. Bintangku  hampir redup. Bulanku akan redup. Akan kuberikan seluruh jantungku untuknya. Akan kuberi makna “Dunia yang indah” yang sesungguhnya. Akan kutemani dia seumur hidupku untuk kami berdua bisa memakan es krim waffle kesukaannya, Asalkan  bintangku tetap hidup, Tetap bersinar. Matanya tetap berbinar saat menceritakan  bagaimana cintanya ia terhadap dunia. Lihatlah bintangku. Dunia yang kau sebut indah  ini telah menghianatimu yang kesekian kali. Melebur menjadi debu. 

Sayup-sayup lirih rintihan Nata mengisi ruangan. Duniaku, bulanku, dan  bintangku sekarat. Mereka telah berhenti memukulnya. Tapi tangisku tak berhenti. Aku  butuh melihatnya! “Buka penutup mataku!” Pintaku sambil terisak. 

Penutup kain yang menghalangi penglihatanku akhirnya dibuka oleh salah satu  pria betubuh besar. Dan akhirnya kulihat duniaku, bulanku, bintangku, sedang terkapar  lemah dengan biru memar di sekujur tubuhnya. Aku pun langsung mengahmpirinya  dengan isak tangis yang tiada henti.  

“Adinata pasti kuat. Adinata kan lelaki hebat. Penggemar utama dunia.” Isakku.  Nata hanya tersenyum lemah. Matanya seakan tak kuat untuk terbuka. “Het hey hey!  Nata! Adinata! Kau akan baik-baik saja! Hey kau belum mencicipi es krim waffle yang  ada di seluruh dunia!” Lirihku sambil terisak. Duniaku meredup. 

Aku mulai panik melihat wajah Nata yang mulai pucat, matanya yang tak sanggup  terbuka, dan bibirnya yang membiru. “Aku menulis surat untuk Waffle.” Bisiknya. Tak  kuat lagi untuk berbicara lantang. “Isinya berupa seluruh penjelasan yang Waffle butuhkan. Sekarang mereka akan melepaskan Waffle dari sini dan kau akan selamat.  Tentunya dengan membawa suratku. Mereka memperbolehkanku menulis apa saja  untukmu.” Jelasnya. Tangan Nata yang gemetar dan membiru memberikan surat itu. Surat  yang akan menjawab semuanya. 

“Lalu bagaimana dengan Nata?” Tanyaku. 

“Nata akan di sini. Nata akan baik-baik saja.” Jawabnya dengan tersenyum.  Setetes air mata membasahi pipinya yang membiru. Sekujur tubuhnya membiru. 

“Tidak! Nata tidak boleh di sini saja! Aku akan keluar dari sini dan melapor  polisi!”

“Hey …” Ia berusaha menenangkan. “Pernah kubilang bahwa matamu sangat  indah? Seindah rembulan.” Nata mencoba menenangkan lagi. Nata kau tidak tahu,  matamu adalah rembulanku juga. 

“Tidak peduli aku secantik apa di matamu, yang terpenting kau bisa keluar dari  sini dan mendapatkan pertolongan.” Ujarku terisak. 

Tiba-tiba pria bertubuh besar itu menyeretku dari pelukan Nata. “Baca suratku  dan kau akan mengerti.” Dan itu adalah kata-kata terakhir sebelum aku benar-benar  kehilangan duniaku. 

… 

Untuk Lana 

My Waffle! Aku telah menghabiskan tiga tahunku bersama perempuan paling luar  biasa yang pernah kutemui. Terima kasih telah menjadikan duniaku bermakna. Ada  banyak hal yang perlu kau tahu. Bahwa dunia ini, faktanya memang indah. Dengan  hadirnya seseorang, dengan melihat betapa dia bisa menemanimu mencicipi makanan  favorite-nya setiap hari. Ada bulan yang selalu menyinari malammu walau malammu  suram. Ada bintang yang menghiasi seluruh hidupmu. Aku ingin kau tahu bahwa dunia  ini akan selalu penuh dengan pohon bergemerisik dan kerikil tajam, seindah apapun hidup  itu. 

Maaf. Maaf atas segala pertanyaan yang hinggap di kepalamu setiap saatnya.  Tentang perihku, tentang batinku, dan tentang duniaku. Hatiku segelap dasar samudera.  Pikiranku sesuram jurang. Dan perasaanku untukmu seluas semesta.  

Perlu kau tahu bahwa punggungku lelah memikul semua beban. Mataku perih  menutupi semua kesedihan. Setiap paginya aku harus menyembunyikan sakitku di kala  malamnya cambuk menghantuiku. Aku berpikir mungkin ayahku adalah seorang  psikopat yang tidak pantas dikaruniai anak. Dia bekerja sebagai kepala badan mafia di  Indonesia. Dunianya gelap. Dan juga memaksaku untuk menjadi gelap, sama sepertinya.  Dengan memaksaku untuk melanjutkan pekerjaannya kelak. Aku tidak mau, Lana! Setiap  harinya kami berdebat untuk siapa yang akan melanjutkan pekerjaan ayahku. Dan  jawabanku selalu “Tidak! Aku tidak akan melakukan itu!” Dan setiap kata “Tidak”  terlontar dari mulutku, setiap itu juga rotan dari tangannya mencambukku. harinya kami berdebat untuk siapa yang akan melanjutkan pekerjaan ayahku. Dan  jawabanku selalu “Tidak! Aku tidak akan melakukan itu!” Dan setiap kata “Tidak”  terlontar dari mulutku, setiap itu juga rotan dari tangannya mencambukku. 

Maaf telah menyembunyikan ini semua. Tapi ada alasan aku tersenyum setiap  hari. Ada alasan aku mencintai dunia. Ada alasan mataku berbinar. Kau. Kau alasannya,  Lana. Kau adalah semua alasan kebahagiaanku. 

Orang yang menculik kita tadi ternyata adalah anak buah ayahku. Dia merasa  bahwa kau membawa dampak buruk terhadapku. Dia merasa bahwa kau adalah alasan  aku tidak ingin melanjutkan pekerjaannya kelak. Dia pikir kau adalah alasanku tidak  menyukai kejahatan. Dia pikir kau adalah alasanku membangkak terhadap setiap  perkataannya. Dan satu yang perlu kau tahu. Kau adalah alasanku mencintai dunia, tidak  ingin terperangkap dalam gelapnya dunia kejahatan, dan kau alasanku bahagia. Kau  membuat duniaku bermakna, Lana. Alasan semestaku bersinar walau kenyataannya gelap. 

Aku ingin kau aman. Aku ingin kau tentram. Aku ingin kau jauh dari duniaku  yang suram. Aku ingin kau jauh dari celaka. Dan ayahku memberi syarat, jika aku ingin  kau selamat, maka kau harus jauh-jauh dariku. Jadi jika boleh aku memohon, tolong,  tinggalkan aku. Tinggalkan aku jauh-jauh dan jangan pernah kembali lagi. Carilah  duniamu. Carilah kebahagiaanmu. Carilah seseorang pengganti yang akan menemanimu  memakan es krim waffle setiap senja. Carilah bintang yang akan menghiasi langitmu.  Carilah bulan yang akan bersinar menemani cerita-cerita unik nan lucu. 

Duniaku, bulanku, bintangku, es krimku, kebahagiaanku, binarku, bagian manis  hidupku. Dunia itu indah. Seindah senjaku yang menikmati es krim waffle bersamamu.  Seindah suaramu dan wajahmu. Dunia tidak hanya gelap dan suram. Dan aku yakin kau  akan mengerti suatu saat nanti, bahwa segelap dan sesuram apapun dasar samudera, ada  lentera yang akan menyinari seluruh lautanmu, seluruh duniamu. 

Aku mencintaimu, Duniaku. 

So long, Adinata.

… 

Aku terbangun dengan setetes keringat di pelipisku. Itu semua terasa nyata.  Teriakan itu, senyum itu, mata binar itu. Segala romansa dan pahit. Isi surat. Manisnya  waffle itu. Tangisanku, rintihnya, getirnya. Dunia, bintang, bulan, samudera, dan laut.  Semua itu terasa sangat nyata. Jantungku berdegup kencang dan mnegatakan itu semua  terasa sangat nyata. Di saat kenyataannya semuanya hanya mimpi. 

TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SELF-CARE Tips at Home

Penelitian Quarter-Life Crisis

DC recomendation: Berani Tidak Disukai