Hindsight Bias: “Kan, Apa Gue Bilang!”
Hindsight Bias: “Kan, Apa Gue Bilang!”
Oleh: Nadia Aulia Rahma
Bayangin temen lo lagi deket sama seseorang, terus lo ada feeling, “Kayaknya ini orang nggak baik deh”. Lalu lo bilang ke temen lo—meskipun pikiran lo itu cuma sekadar feeling aja—, tapi temen lo ga percaya. Eh ternyata setelah beberapa saat, orang itu benar-benar berbuat jahat ke temen lo. Rasanya mau bilang, “Kan, apa gue bilang! Memang feeling gue nggak enak sama orang itu dari awal.”
Terdengar familiar ya. Kita seringkali melakukan ini, sadar atau nggak sadar. Biasanya hal ini kita lakukan ketika kita merasa sudah “memprediksi” suatu kejadian, dan kita udah yakin dari awal bagaimana sesuatu akan berakhir.
Namun, lo tau nggak sih, kalo ini adalah bentuk bias berpikir?
Yap, cara berpikir ini disebut hindsight bias.
Hindsight bias, atau i-knew-it-all-along phenomenon, mengacu pada penilaian kita tentang peristiwa yang sudah pernah terjadi di masa lalu. Hindsight bias ini kita lakukan saat kita melihat suatu kejadian, kemudian kita mengatakan bahwa peristiwa itu tidak dapat dihindari dari awal. Istilahnya, kita seakan sudah “tahu duluan” kalau kejadian itu akan terjadi sesuai prediksi kita.
Hindsight bias mencerminkan overconfidence kita, bahwa kita menganggap bahwa kita dapat secara akurat memprediksi hasil tertentu di beberapa titik di masa lalu. Hindsight bias menunjukkan bahwa pada dasarnya kita sering merekonstruksi masa lalu agar sesuai dengan pengetahuan kita saat ini.
Misalnya ketika kita lagi menonton film, pas ngeliat ending-nya kita mikir, “Ah ini mah endingnya ketebak dari awal!” Nah, ini menunjukkan bahwa, mungkin, di masa lalu kita pernah menonton film serupa, yang akhirnya itu-itu saja.
Meskipun dinilai nggak berbahaya, tapi hindsight bias bisa mengganggu kita dalam mengambil keputusan. Hindsight bias bisa membentuk penilaian kita terhadap orang lain, bahkan membawa kita pada bias lain seperti halo effect. Hindsight bias juga dinilai berperan dalam fenomena “victim blaming” yang udah pernah kita bahas sebelumnya. Bahkan, ada penelitian yang menemukan bahwa orang yang depresi cenderung lebih mudah melihat hasil yang negatif dibandingkan positif.
So, now you know! What do you think?
Komentar
Posting Komentar