Are You Happy?
Are You Happy?
Oleh: Naila Bidayah S
“Are you happy?”
Yap, pertanyaan barusan adalah salah satu yang paling sering telinga kita dengar bukan? Baru-baru ini World Happiness Report meluncurkan data, dari 146 negara yang diteliti tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia berada dalam kategori sedang cenderung rendah, yaitu pada peringkat 87 (Helliwell et. al, 2022). Belum lagi berita mengenai Banten yang memiliki peringkat terendah dalam pengukuran kebahagiaan oleh BPS. Ternyata bahagia menjadi sorotan tiap masyarakat bahkan di seluruh penjuru dunia.
Jadi sebenarnya bahagia itu apa sih?
Bukannya bahagia setiap orang itu berbeda?
Terus... terus...
eeeettt sabarr dulu kaak!
Seperti yang teman-teman tahu kalau kita bicara soal ilmu sosial, jawabannya, tergantung! Yap, kita mau lihat dari sisi mana? Misalnya, ditinjau dari psikologi positif, kebahagiaan merupakan keadaan yang menunjukkan seseorang secara subjektif merasa senang, terbebas dari segala hal yang menyusahkan ataupun mengganggu, dan merasa tenang baik secara lahir maupun batin (Munib & Fahrurrazi, 2021).
Pandangan lain, dari Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa Bahagia merujuk pada dua dunia, yaitu dunia saat ini dan akhirat, artinya kebahagiaan merupakan suatu kondisi jiwa yang tenang damai dan tanpa sesuatu kekurangan apapun dan puncak kebahagiaan seseorang dapat diraih ketika ia telah sampai pada ma'rifat Allah atau mengenal Allah. Hal ini juga didukung oleh para ulama lain, seperti Abu Hamid Al-Ghazali, Ibnu Thufail, dan Sayyid Muhammad Naquib Al-Attas yang menyatakan bahwa kebahagiaan tidak merujuk pada yang sifatnya jasmani atau indrawi, tetapi kebahagiaan yang abadi lebih tinggi dari kenikmatan duniawi. Tentunya, masih banyak lagi dari berbagai perspektif!
Oh gitu ya kak, terus gimana caranya biar jadi orang yang bahagia?
Baiklah adik-adikku tersayang, ciaelah! Jawabannya tetap sama lagi dan lagi adalah tergantung perspektif mana yang akan kita pakai. Kali ini kita akan bahas dari segi psikologi positifnya Seligman dan psikologi Islamnya Imam Al-Ghazali.
Menurut Seligman ada tiga cara untuk meraih kebahagiaan, yaitu
Have a pleasant life, yaitu menikmati hidup dengan berbagai hal yang menyenangkan, bukan hanya tentang hidup yang foya-foya tetapi dengan apapun kondisi yang dimiliki, kita dapat tetap menikmati hidup tersebut.
Have a good life, yaitu kita dapat merasa lebur menyatu dengan setiap kegiatan yang dikerjakan sehingga tidak terbebani ataupun mengeluh dalam aktivitas tersebut.
Have a meaningful life, yaitu kebermaknaan hidup. Ketika kita punya tendensi untuk bermakna bagi orang lain, maka hal tersebut tentu akan berpengaruh pada sisi kebahagiaan hidup itu sendiri.
Kalau menurut Al-Ghazali, kebahagiaan dapat diraih dengan beberapa cara, yaitu Ma'rifat Al-Nafs atau mengenal diri sendiri, yaitu mencari jawaban dari diri sendiri dengan sebenar-benarnya sampai pada titik kesadaran dan pengetahuan yang paling maksimal tentang seperti apa sebenarnya gambaran tentang diri sendiri, dari mana asal penciptaan manusia, dan untuk apa manusia diciptakan, dengan berbagai pertanyaan yang muncul tersebut manusia akan sampai pada dirinya yang sesungguhnya. Agar al-nafs memiliki karakter yang baik dan menjadi lebih sempurna Al Ghazali menyatakan bahwa tazkiyah al-nafs atau penyucian jiwa perlu untuk dilakukan untuk penjagaan dan penguatan jiwa agar benar-benar bersih dari berbagai kotoran, dan apabila langkah-langkah dan strategi tersebut sudah dilakukan maka gambaran kebahagiaan, yaitu makrifat Allah (mengenal Allah) dengan sangat baik akan bisa tercapai.
Jadi, begitulah bahagia dari definisi berbagai sisi, tak ada yang salah atau benar, tentu keduanya masih ada persamaan dan dapat pula dikombinasikan. Buat kamu yang lagi bingung kapan ya aku bahagia? kok kayaknya sedih terus, coba yuk cari tahu apa itu bahagia yang sebenarnya, selamat berkelana mencari jawaban, doaku semoga bahagia yang kau yakini bukan yang semu, menipu, atau sementara, ya!
References:
Taufik. (2012). Positive Psychology : Psikologi Cara Meraih Kebahagiaan, Prosiding Seminar Nasional Psikologi Islami. (Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Yudhawati, Dian. (2018). IMPLEMENTASI PSIKOLOGI POSITIF DALAM PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN MAHASISWA, Jurnal Psycho Idea.
Hidup, S. M. Seni Menikmati Hidup: Terapkan Mindfulness Tingkatkan Happiness.
Komentar
Posting Komentar