Self-Diagnose dan Bahayanya

Self-Diagnose dan Bahayanya

Oleh: Sherli Dewanti


    Self-Diagnose adalah kegiatan mendiagnosa diri sendiri tanpa pertimbangan oleh ahli. Hal ini  dapat dikatakan berbahaya jika terjadi kesalahan dalam mendiagnosa, karena tidak ditangani oleh orang yang memang berpengalaman di bidangnya. Dewasa ini banyak remaja yang lakukan self –diagnose, hal ini dipengaruhi oleh semakin digemarinya bidang psikologi. Minat yang berkembang pesat menyebabkan masyarakat terutama remaja mencari-cari informasi tentang psikologi. Hal ini sebenarnya adalah langkah yang baik untuk mensosialisasikan psikologi pada masyrakat luas, namun banyak yang salah pakrah dalam menerima informasi tersebut. Banyak dari remaja yang justru melakukan self-diagnose secara sadar maupun tak sadar. 


Banyak informasi pada platfrom-platfrom sosial seperti instagram, tiktok, twitter, dan lain-lain yang memberikan informasi yang kurang lengkap bahkan salah tentang psikologi, seperti informasi tentang ciri-ciri seseorang yang terkena gangguan psikis, kolerasi antara MBTI dengan perilaku, dan lain sebagainya. Hal ini menjadi dasar self-diagnose yang dilakukan remaja saat ini. Ketika mereka merasa sedih dan stress mereka akan langsung berpikir bahwa mereka menderita depresi, ketika mereka merasa kesepian mereka langsung berpikir bahwa mereka menderita loneliness disorder, atau ketika mereka mengalami mood swing mereka akan berpikir bahwa mereka bipolar disorder. Hal ini lah yang membahayakan karena belum terbukti benar dari diagnosa yang dilakukan ini. Bahkan terkadang remaja-remaja berusaha mencari cir-ciri gangguan mental yang ada pada dirinya, karena banyak dari mereka yang beranggapakan bahwa “depresi itu keren lho” atau “dengan terkena skizofrenia semua orang akan simpati padaku”. Kita harus menghilangakan pikiran-pikiran seperti itu, karena gangguan mental bukanlah ajang untuk menjadi keren, gangguan mental bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan melainkan harus dicegah dan ditindak lanjut. 


Self-diagnose ini berbahaya apabila dilakukan, bahaya yang ditimbulkan dari self-diagnose adalah:

  1. Kesulitan untuk membedakan penyakit medis yang memiliki ciri-ciri seperti gangguan psikis

  2. Enggan untuk pergi ke psikolog, karena merasa dirinya sendiri dapat mendiagnosa hal yang terjadi 

  3. Kesulitan mengenali diri sendiri

  4. Beranggapkan bahwa diri sendiri sangat buruk sehingga tidak dapat diterima oleh masyarakat

  5. Denial, atau bisa disebut juga sebagai penyangkalan terhadap sesuai yang benar-benar terjadi, untuk tetap menghidupkan ekspektasi yang telah dibuat

  6. Terjadinya kesalahan diagnosa yang tentu berbahaya jika dipercayai terus menerus.


Setelah melihat banyaknya bahaya yang ditimbulkan dari self-diagnose ini sendiri apakah masyarakat luas akan berhenti melakukan self-diagnose begitu saja? Jawabannya adalah tidak, karena banyak juga platfrom-platfrom yang telah memberikan informasi tentang larangan serta bahaya melakukan self-diagnose tetapi self-diagnose sendiri seperti sudah menjadi  kebiasaan yang melekat pada kehidupan remaja-remaja indonesia. Contohnya pengunaan bahasa-bahasa yang tidak kita sadari merujuk kepada self-diagnose seperti “depresi bgt abis diputusin pacar”, “serem banget kayak psikopat”, “dia bersih banget deh pasti OCD”, dan semacamnya. Hal ini harus dihindari karena secara tidak langsung kita telah mekukan self-diagnose itu sendiri. Ada banyak upaya yang dapat dilakukan guna mencegah terjadinya self-diagnose, yaitu:

  1. Memilah segala informasi yang didapatkan, dengan ini kita dapat meminimalisir kesalahan informasi 

  2. Berdiskusi dengan orang terdekat, hal ini dinilai cukup efektif untuk mengurangi stress yang dialami seseorang. Kita bisa berdiskusi dengan teman, orang tua, atau pasangan

  3. Pergi ke psikolog atau psikiater, cara ini adalah cara yang paling tepat karena langsung mendapatkan penangangan dari orang yang memang ahli di bidang psikis manusia.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penelitian Quarter-Life Crisis

SELF-CARE Tips at Home

DAMPAK SINGLE PARENTS TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK DIMASA REMAJA