Mengenal Skizofrenia
Mengenal Skizofrenia
Oleh : Adeline Kallita Cahyadi Putri
Apakah skizofrenia itu?
Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang dialami dalam jangka panjang
(kronis 1) yang mempengaruhi orang yang mengalaminya dalam hal berpikir,
merasa, dan berperilaku. Walaupun orang yang mengalaminya tidak sebanyak
penderita gangguan jiwa lain, gangguan ini bisa sangat melumpuhkan.
Diperkirakan 7 hingga 8 individu di antara 1.000 orang akan mengalami
skizofrenia pada suatu waktu dalam hidupnya. Orang dengan skizofrenia dapat
mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Mereka
mungkin percaya bahwa orang lain membaca pikiran mereka, mengendalikan pikiran
mereka, atau bersekongkol untuk mencelakai mereka. Hal ini bisa sangat
menakutkan dan memicu kemarahan orang yang mengalaminya dan membuat mereka
menarik diri dari pergaulan sosial atau mudah tersulut emosinya. Hal inilah
yang kemudian membuat orang di sekitarnya menjadi ketakutan dan menjadi marah
pula.
Orang dengan skizofrenia
kadang-kadang bicara soal ide yang aneh atau tidak biasa, yang sukar untuk
dibicarakan. Mereka mungkin duduk selama berjam-jam tanpa bergerak atau
berbicara. Kadang-kadang orang dengan skizofrenia kelihatan baik-baik saja
hingga mereka membicarakan apa yang sebenarnya mereka pikirkan. Keluarga dan
masyarakat terkena dampak dari skizofrenia juga. Banyak orang dengan
skizofrenia yang memiliki kesulitan untuk mempertahankan pekerjaan atau merawat
diri mereka sendiri, maka mereka bergantung kepada orang lain untuk membantu
mereka. Sikap dan kepercayaan berstigma terhadap skizofrenia merupakan hal yang
umum dan kadangkadang bertumpang tindih dengan kehendak masyarakat ketika
membicarakan masalah ini serta ketika mencoba mendapatkan pengobatan untuk
gangguan dimaksud.
Orang dengan skizofrenia
dapat menangani gejala-gejala yang ia alami di sepanjang hidupnya, namun
pengobatan membantu banyak agar ia dapat pulih dan mengejar tujuan hidupnya.
Para peneliti mengembangkan pengobatan yang lebih efektif dan menggunakan
peranti penelitian yang baru untuk memahami penyebab skizofrenia. Pada
tahun-tahun yang akan datang, upaya ini mungkin akan membantu mencegah dan
mengobati secara lebih baik penyakit ini. Apa sajakah gejala-gejala dari
skizofrenia? Gejala-gejala skizofrenia dibagi ke dalam tiga golongan besar:
yaitu gejala positif, negatif, dan daya pikir.
Gejala positif adalah perilaku psikotik yang tidak terlihat
pada orang yang sehat. Orang dengan gejala positif dapat “kehilangan kontak”
dengan beberapa aspek dari realitas. Bagi sejumlah orang, gejala ini datang dan
pergi. Bagi yang lainnya, gejala ini tetap ada dari waktu ke waktu.
Kadang-kadang berat, dan di waktu lain tidak kentara. Kadar keparahan dari
gejala positif tergantung pada apakah orang yang mengalaminya mendapatkan
pengobatan. Gejala negatif yaitu berkaitan dengan kurangnya kadar
emosi dan perilaku jika dibandingkan dengan orang yang sehat. Gejala ini lebih
sukar untuk dikenali sebagai bagian dari gangguan jiwa skizofrenia dan dapat
salah-dikenali sebagai gejala-gejala depresi atau kondisi lainnya. Gejala
daya pikir pada sejumlah orang dengan skizofrenia sangatlah sukar untuk
dikenali, namun bagi yang lain, gejalanya lebih berat dan sang pasien dapat
merasakan adanya perubahan dalam memori atau aspek pikir lainnya. Mirip dengan
gejala negatif, gejala daya pikir mungkin sukar untuk dikenali sebagai bagian
dari skizofrenia. Seringkali, mereka terdeteksi hanya ketika uji spesifik
berkenaan dengan hal tersebut dilakukan.
Skizofrenia sedikit
lebih banyak mempengaruhi pria daripada wanita. Ia dapat menyerang siapa saja
di semua etnis di mana saja di dunia ini. Gejala-gejalanya seperti halusinasi
dan waham biasanya dimulai pada usia 16 hingga 30 tahun. Pria cenderung untuk
mengalami gejalanya sedikit lebih dini ketimbang wanita. Pada umumnya,
skizofrenia terjadi pada masa remaja akhir dan dewasa awal. Merupakan hal yang
tidak umum untuk didiagnosa skizofrenia setelah usia 45 tahun. Skizofrenia
jarang terjadi pada anak-anak, namun kewaspadaan akan adanya skizofrenia yang
berawal pada masa kanak-kanak sedang
meningkat.
Adalah hal yang sulit
untuk menetapkan diagnosa skizofrenia untuk usia remaja. Hal ini disebabkan
oleh pertanda pertama dari gangguan ini dapat mencakup perubahan pada lingkaran
perkawanan, turunnya nilai-nilai dalam pelajaran, masalah tidur, dan rasa mudah
tersinggung – perilaku yang umum pada masa-masa remaja. Sebuah kombinasi dari
berbagai faktor dapat memperkirakan hingga 80 persen orang di usia muda punya
resiko yang tinggi untuk mengembangkan penyakit ini. Faktor-faktor ini termasuk
mengisolasi diri sendiri dan menarik diri dari pergaulan sosial, peningkatan
dalam hal pikiran yang tidak biasa, dan riwayat keluarga dalam hal psikosis.
Tahapan pra-psikosis dari gangguan ini disebut dengan istilah masa “prodromal.”
Sebagian besar orang
dengan skizofrenia tidaklah suka melakukan kekerasan. Faktanya, sebagian besar
kejahatan dengan kekerasan tidak dilakukan oleh orang dengan skizofrenia. Orang
dengan skizofrenia cenderung lebih banyak menyakiti diri sendiri daripada
menyakiti orang lain. Penyalahgunaan zat mungkin meningkatkan kemungkinan orang
tersebut untuk melakukan kekerasan. Resiko untuk melakukan tindak kekerasan itu
meningkat hingga maksimal ketika gejala psikosisnya tidak diobati dan menurun
secara berarti ketika pengobatan telah dilakukan.
Ide dan perilaku untuk
bunuh diri merupakan hal yang umum di antara orang dengan skizofrenia. Orang
dengan skizofrenia meninggal lebih dini dibandingkan orang yang tanpa gangguan
jiwa karena resiko untuk bunuh diri yang meningkat. Merupakan hal yang sulit
untuk memperkirakan yang mana saja di antara yang mengalami skizofrenia yang
akan meninggal karena bunuh diri, namun pengobatan yang aktif untuk menangani
gejala depresi dan penyalahgunaan zat dapat mengurangi resiko untuk bunuh diri.
Orang yang meminum antipsikotik mereka sesuai dengan yang diresepkan cenderung
lebih kecil kemungkinannya untuk berusaha bunuh diri daripada mereka yang tidak meminumnya. Jika seseorang yang Anda tahu
berbicara tentang atau pernah melakukan upaya bunuh diri, bantulah ia untuk
menemukan profesional kesehatan atau hubungilah nomor telepon darurat yang
menangani hal tersebut.
Penyebab skizofrenia masih belum diketahui secara pasti, maka fokus dari pengobatan adalah menghilangkan gejala-gejala dari penyakit ini. Pengobatan tersebut termasuk pengobatan dengan antipsikotik dan pengobatan psikososial yang bermacam-macam. Penelitian tentang “Pengobatan khusus yang terkoordinasi” (coordinated specialty care), di mana seorang manajer kasus, sang pasien, dan sebuah tim pengobatan yang menangani obat medis dan tim psikososial yang bekerja bersama-sama, telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam pemulihan dari gangguan ini.
Komentar
Posting Komentar