Membangun Self-acceptance
Membangun Self-acceptance
Oleh: Nabilah Alifatun Nisaa
"You must love yourself before you love another. By accepting yourself and fully being what you are, your simple presence can make others happy." -Anonim
Banyak mitos beredar di kalangan masyarakat yang mengatakan bahwa self-acceptance tidak bisa berubah atau relatif menetap, ditentukan oleh fisik seseorang, dan lain-lain.
Sebenarnya, apa arti dari self-acceptance?
Menurut APA Dictionary of Psychology, self-acceptance adalah mengakui, menerima, dan menghargai pencapaian maupun keterbatasan diri. Self-acceptance sering juga disebut sebagai komponen utama kesehatan mental suatu individu.
Seorang ahli psikologi bernama Kartono mengatakan, bahwa self-acceptance merupakan kemampuan seseorang untuk menerima keadaan dirinya sendiri dengan apa adanya dan merasa puas dengan dirinya sendiri. Perlu diketahui, self-acceptance merupakan salah satu faktor penting untuk mencapai kebahagiaan. Tanpa self-acceptance, seseorang cenderung akan sulit menerima orang lain, sehingga akan berpengaruh dalam sosialisasi dengan orang lain.
Lalu, bagaimana caranya untuk membangun self-acceptance?
Setiap manusia tentunya pasti pernah mengalami keadaan yang buruk, tidak sesuai ekspetasi atau tidak menyenangkan seperti sakit fisik maupun psikis. Mungkin bagi beberapa orang dapat dengan mudah menerima keaadaan tersebut. Namun, bagi kebanyakan orang, menerima keadaan tersebut bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan, masih banyak yang belum dapat menerima dirinya sendiri meski dalam keadaan baik-baik saja. Pada beberapa orang tersebut, perlu proses yang panjang untuk dapat menerima dirinya sendiri. Self-acceptance dapat dibangun dengan cara:
Membuat daftar kelebihan dan kekurangan diri. Dengan membuat daftar ini dapat mengetahui bahwasannya tidak hanya kekurangan yang ada dalam dirinya namun juga terdapat kelebihan.
Menerima dan menjadikan kekurangan sebagai awal untuk mengembangkan diri. Kekurangan yang tidak dapat diubah seperti fisik, perlu diterima dengan ikhlas. Tapi dibalik itu, terdapat kekurangan yang masih dapat diubah, seperti skill yang dapat diperbaiki dengan terus berlatih.
Berpikir lebih realistis. Terimalah bahwasannya memang tidak ada manusia yang dilahirkan dengan sempurna dan berhentilah membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
Memiliki support system untuk menemani proses self-acceptance. Memiliki support system sangat penting dalam proses self-acceptance, terlebih jika support systemnya juga sedang berproses untuk membangun self-acceptance.
Seseorang dapat dikatakan telah menerima dirinya sendiri atau self-acceptance, apabila sudah menerima dirinya sendiri dengan apa adanya, tidak menolak kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam dirinya, memiliki keyakinan bahwa dalam mencintai diri sendiri tidak harus dicintai oleh orang lain, meyakini bahwa seseorang tidak perlu harus sempurna untuk merasa berharga, dan yakin bahwasannya ia berguna.
Kesimpulannya adalah membangun self-acceptance dapat membuat lebih mengenal diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, dan dengan self-acceptance dapat menerima kekurangan yang tidak dapat diubah dan memperbaiki kekurangan yang dapat diperbaiki. Bahkan, self-acceptance juga berperan sangat penting dalam interaksi sosial karena self-acceptance juga meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk menghadapi penolakan ataupun kritik. Dengan menerima diri sendiri, dapat menumbuhkan rasa percaya diri sehingga mudah diterima oleh orang lain. Jika self-acceptance sudah terbentuk, pasti beberapa karakteristik diri menjadi berbeda dari sebelumnya. Tentunya self-acceptance akan membuat seseorang dapat tampih lebih positif dan optimis.
Referensi
Antry, A. R. (2017). Pengaruh Terapi Dzikir Terhadap Penerimaan Diri (Self Acceptance) Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Blitar di Tulungagung.
Hibbert, C. (September 18, 2013). “These Are My Strengths!” & “This Is My Lame-O List!”: How to Embrace Strengths and Weaknesses.
Putri, R. (2018). Meningkatkan self-acceptance. prosiding.unipma.ac.id, 11.
Self-Acceptance. (2020). In APA Dictionary of Psychology.
Komentar
Posting Komentar