Say No to Cabin Fever!

Say No to Cabin Fever!

Oleh : Fira Almira


Ditengah pandemi Covid-19 yang sedang melanda pemerintah menganjurkan kita untuk membatasi aktivitas di luar rumah atau yang sering disebut PPKM, hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19. Terhitung sudah hampir dua tahun kita melakukan pembatasan sosial. Semua kegiatan yang kita lakukan pun dilakukan dari rumah mulai dari bekerja, belajar, ibadah dan kegiatan-kegiatan lainnya. “Bosan” mungkin kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan kita selama pembatasan sosial ini namun, taukan kalian bosan yang terlalu lama karena karantina mandiri juga dapat menyebabkan masalah cukup serius yang mana munculah istilah Cabin Fever ditengan Pandemi Covid-19. Istilah cabin fever ini sebenarnya juga pernah digunakan oleh beberapa negara dengan iklim dingin untuk menggambarkan keadaan psikologis masyarakatnya ketika terjadi cuaca ekstim yang membuat warganya terperangkap didalam rumah.

Cabin fever dapat diartikan sebagain beberapa perasaan negative akibat terlalu lama terisolasi di dalam ruamah atau tempat tertentu (Alodokter, 2020). Pada dasarnya Cabin Fever ini bukanlah diagnosis klinis atau pun gangguan psikologis melaikan respon psikologis tubuh akibat terlalu lama terisolasi didalam suatu tempat. Seseorang yang mengalami cabin fever biasanya sering merasa bosan, sedih, gelisah, mudah tersinggung, demotivasi, putus asa, senfitif dan berbagai perasaan negative lainnya namun, dari beberapa gejala diatas setiap orang dapat merasakan tingkat kerentanan gejala yang berbeda walaupun mengalami stressor yang sama. 

Pendapat lain mengatakan bahwa secara umum gejala dari penderita Cabin Fever juga muncul ketika seseorang sedang mengalami deprivasi sensorik secara tiba-tiba akibat pembatasan sosialisasi sehingga sensor cahaya dan suara yang didapat terbatas dan membuat seseorang berhalusinasi. Selain itu penderita Cabin Fever juga dapat mengalami gejala kognitif seperti kurang fokus, gejala insomnia, gejala psikomotorik selalu merasa lesu, sampai gejala otonomik atau gangguan buang air (fk.unair.ac.id, 2020).

Adapula dampak yang akan dirasakan oleh penderita Cabin fever yaitu munculnya perilaku agresif yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Penderita dapat mengalami amarah yang meladak-ledak tidak terkendali, melakukan kekerasan dalam keluarga, dan berkeinginan untuk melukai diri sendiri merasa bahwa dirinya tidak berharga, putus asa, dan tidak memiliki jalan keluar.

Menurut dr. Gina Anindyajati, SpKJ dari Departemen Psikiatri FKUI mengatakan bahwa Sebenarnya Cabin Fever dimasa Pandemi Covid-19 ini dapat berasal dari kurang aktifnya seseorang saat menjalani pembatasan social sehingga merasakan bosan, terjebak dan tertekan. Seseorang yang tinggal sendirian dan tidak banyak melakukan sesuatu akan lebih rentan terkena Cabin Fever sama halnya juga seperti orang yang lesu suka bersantai, bermalas-malasan dalam jangka waktu yang lama selama masa pembatasan social juga akan mudah merasa bosan dan terjebak kedalam Cabin Fever (ui.ac.id, 2020)

Oleh karena itu walaupun semua kegiatan dimasa pembatasan social ini terbatas kita harus tetap produktif dan menjaga rutinitas sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengubah midset kita bahwa pembatasan sosial bukanlah tekanan dan alasan untuk kita bermalas-malasan, tetaplah lakukan rutinitas biasa seperti bangun dan mandi dipagi hari, buatlah jadwal rutinitas sehari-hari kapan kita harus bekerja atau belajar dan kapan kita harus beristirahat, anggaplah kita sedang melakukan kegiatan biasa sama seperti sebelum pembatasan social diperlakukan dengan begitu itu kita tidak akan mudah merasa bosan dan tertekan yang berkepanjangan hingga memicu munculnya Cabin Fever dimasa pandemic. 

Selai itu untuk mengatasi Cabin Fever dimasa pandemic kita juga dapat membuat rutinitas baru seperti mengembangkan hobi yang belum sempat terlaksanakan. Makan makanan yang sehat dan berolahraga juga baik dilakukan. Kita juga dapat membawa suasana dunia luar kedalam rumah dengan membuka jendela dan pintu lebar-lebar dipagi hari agar sinar matahari masuk jangan lupa untuk mematikan AC (Air Conditioning) biarkan udara dari luar bertukar agar ruangan terasa lebih bersih. Walaupun adanya kebijakan pembatasan social bukan berarti kita harus berdiam diri untuk menghindari terkenanya Cabin Fever kita dapat sesekali pergi keluar disekitar rumah dengan menerapkan protocol kesehatan lalu nikmati perjalanan singkat tersebut.

Karena tidak tau kapan pandemic ini akan berakhir maka hentikanlah pemikiran yang membebani kita dengan mempertanyakan kapan situasi ini berakhir lebih baik untuk focus dengan apa yang bisa kita kerjakan sekarang dan nikmatilah karena, kita tidak dapat mengontrol keadaan. Ingat bahwa dimasa pembatasan social ini bukan berarti kita kesepian, tetap lakukanlah komunikasi dengan orang-orang terdekat saling bertukat kabar dan bercerita walau hanya lewat platform digital. Satu hal yang paling penting jika dirasa cabin fever sudah sangat berat dan tidak dapat diatasi sendiri maka pergilah cari bantuan dengan menghubungi terapis ahli.


Sumber

Kusumawardhani, Naftalia. 2020. Cabin Fever: Mengapa dan Bagaimana Mengatasinya. Powerpoit. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus: Surabaya

Algristian, Hafid. 2020. “Mengenal Cabin Fever, Ancaman, Kesehatan Psikologis di Tengah Pandemi”. Diakses pada tanggal 5/09/2021. Dari: https://fk.unair.ac.id/mengenal-cabin-fever-ancaman-kesehatan-psikologis-di-tengah-pandemi/

Editor UI. 2020. “Mengenal Gejala Cabin Fever dan Cara Mengatsainya”. Diakses pada tanggal 4/09/2021. Dari: https://www.ui.ac.id/mengenal-gejala-cabin-fever-dan-cara-mengatasinya/ 

Gloria. 2020. “Isolasi Selama Pandemi dapat Sebabkan Cabin Fever”. Diakses pada tanggal 5/09/2021. Dari:https://ugm.ac.id/id/berita/19639-isolasi-selama-pandemi-dapat-sebabkan-cabin-fever 

Nareza, Meva. 2020. “Waspadai Cabin Fever Terlalu Lama Tinggal di Rumah”. Diakses pada tanggal 4/09/2021. Dari: https://www.alodokter.com/waspadai-cabin-fever-akibat-terlalu-lama-tinggal-di-rumah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penelitian Quarter-Life Crisis

SELF-CARE Tips at Home

DAMPAK SINGLE PARENTS TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK DIMASA REMAJA