PEOPLE PLEASER
PEOPLE PLEASER
Oleh: Namira Arianna Firmansyah
Hai semuanya, pernah gak sih dalam pikiranmu terbesit kata kata “Aduh, aku ingin menolak, tapi kok gak enak ya?”, atau “Kalau aku bilang tidak, dia bakal marah gak ya?.” Kamu jadi mengiyakan permintaan orang padahal sebenarnya kamu tidak ingin melakukannya. Atau mungkin kamu pernah merasa sering dimanfaatkan orang lain? Jika pernah mungkin kamu merupakan seorang people-pleaser. Hal ini tidak bisa di sepelekan begitu saja ya, karena tentunya akan merugikan diri kamu sendiri. Apa sih people-pleaser itu? Bagaimana ciri-cirinya? Apa faktor yang menyebabkan seseorang mejadi people-pleaser? Dan bagaimana cara terlepas dari perilaku people-pleaser? Kita bahas bersama-sama disini, ya.
People-pleaser adalah sebutan bagi seseorang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain dan memiliki kecenderungan untuk melakukan apapun agar tidak mengecewakan orang yang ada di sekitarnya. Ia sering mengorbankan perasaannya demi memenuhi kesenangan orang lain.
Menurut Susan Newman seorang psikolog yang berbasis di New Jersey, people-pleaser akan meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri (psikomedia.net).
Ciri ciri dari seorang people-pleaser yang paling umum adalah sulit mengatakan “tidak” pada permintaan orang lain, mereka merasa jika mereka menolak permintaan orang lain maka orang lain akan menganggap mereka sebagai manusia yang tidak acuh. Selalu setuju dengan pendapat orang, menyalahkan diri sendiri, tidak mau menerima bantuan orang lain dan memerlukan pujian untuk merasa berharga. Mereka cenderung merasa bertanggung jawab pada perasaan orang lain. Mereka mudah memaafkan bahkan seringkali meminta maaf pada suatu hal yang sebenarnya bukan kesalahan mereka.
Jika dilihat dari ciri ciri yang dijabarkan diatas mungkin kalian akan merasa bahwa people-pleaser adalah sikap yang positif. Tetapi kenyataannya menjadi seorang people-pleaser akan meningkatkan resiko gangguan kesehatan fisik ataupun mental. Menjadi people-pleaser membuat kita menjadi tidak percaya diri, memendam rasa benci, kelelahan, bahkan dapat berakhir frustasi karena dimanfaatkan dan terlalu banyak berkorban untuk orang lain.
Menurut seorang psikolog bernama Leon F Seltzer, akar dari sikap people-pleaser adalah lingkungan keluarga. Hal ini biasanya disebabkan oleh orangtua yang menuntut agar anak-anaknya menjadi orang yang baik, dan selalu dapat menjadi kebanggaan (BEM.FPPSI.UM.AC.ID).
Sebagian besar orangtua menginginkan anaknya menjadi yang terdepan, menjadi pemimpin, dan bahkan menjadi contoh bagi anak lainnya. Orangtua yang seringkali menolak permintaan maaf dari si anak juga akan membentuk seseorang menjadi people-pleaser, anak akan terbiasa tumbuh untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Anak menjadi orang yang ingin diterima dengan cara menjadi apa yang orang lain harapkan.
Sifat ini tentunya bukanlah sifat yang baik untuk dipelihara. Untuk terlepas dari perilaku people-pleaser ada beberapa hal yang harus kamu lakukan, yaitu :
Bersikap tegas pada diri sendiri dan orang lain, jika dimintai bantuan diluar kapasitas kemampuan kamu dan merugikan dirimu sendiri, maka jangan ragu untuk menolak ya.
Prioritaskan dirimu terlebih dahulu, kebahagiaanmu itu harus kamu ciptakan sendiri. Jangan mengharapkan kebahagiaan dari ucapan terima kasih dan pujian dari orang lain. Tanamkan dalam dirimu bahwa kamu tidak hidup untuk orang lain, melainkan untuk dirimu sendiri.
Jangan mudah meminta maaf pada suatu hal yang bukan salahmu, minta maaflah jika apa yang kamu lakukan benar-benar kesalahanmu. Meminta maaf atas kesalahan orang lain hanya akan membuat orang tersebut semakin tidak bertanggungjawab.
Mintalah bantuan orang lain, jangan merasa takut merepotkan dan tidak enak pada orang lain. Tapi ingat, meminta pertolongan orang lain harus dengan cara yang baik dan sesuai dengan kemampuan orang yang dimintai pertolongan.
Mulai batasi dirimu. Menolak permintaan bukan berarti kamu tak acuh dan egois, ajak seseorang untuk berdiskusi dan memberikan masukan padamu, atau kamu juga bisa menghubungi tenaga professional jika dibutuhkan.
Berhenti menjadi seorang people-pleaser tentunya tidak mudah. Butuh waktu dan keyakinan diri untuk bisa melepaskan diri. Suka menolong dan disukai oleh orang lain adalah hak kita sebagai manusia, akan tetapi jangan lupa untuk lebih mengutamakan diri anda sendiri dan janganlah menjadi people-pleaser untuk orang lain..
Sumber:
BEM FPPsi UM (2020, 27 Juli) People Pleaser. Diakses pada 11 September 2021, dari http://bem.fppsi.um.ac.id/index.php/2020/07/27/people-pleaser/
BPPM (2020, 10 Agustus) People Pleaser: Semua Tentang Nggak Enakan. Diakses pada 11 September 2021, dari https://psikomedia.net/people-pleaser-semua-tentang-nggak-enakan/
Dr. Rizal Fadli (2020, 16 Desember) Tips Tepat untuk Berhenti Menjadi People Pleaser. Diakses pada 11 September 2021, dari https://www.halodoc.com/artikel/tips-tepat-untuk-berhenti-menjadi-people-pleaser
Komentar
Posting Komentar