Narsistik : Percaya Diri Yang Melampaui Batas
Narsistik : Percaya Diri Yang Melampaui Batas
Oleh : Nurul Dea Amalia
Seringkali kita menyebut orang yang suka sekali selfie sebagai orang yang narsis. Memang bisa jadi benar tetapi sebenarnya definisi narsis tidak hanya sebatas itu. Untuk mengetahui seseorang itu narsis atau tidak, kita perlu mengetahui motif mereka melakukan selfie atau motif mereka mengunggah potret diri mereka. Sebelum kita memberi label narsis kepada seseorang, kita perlu memahami pengertian dari narsis. Di dalam psikologi, narsis atau narsistik termasuk kondisi gangguan kepribadian. Oleh karena itu, kita tidak boleh asal dalam menyebut seseorang narsis hanya karena dia suka sekali selfie.
Menurut The US National Library of Medicine, narsisme adalah seseorang yang memiliki kepercayaan diri berlebihan, keseruan dengan diri sendiri dan tidak memiliki empati terhadap orang lain. Sedangkan istilah narsistik sendiri berasal dari Yunani yaitu Narcissus, yang diceritakan bahwa ada seorang pemuda bernama Narcissus tidak sengaja melihat bayangannya di kolam air lalu ia merasa jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Dari penjelasan tersebut, bisa kita pahami bahwa narsistik adalah kondisi gangguan kepribadian dimana orang yang menderita narsisitik merasa dirinya paling penting dan unggul, serta memandang semua orang dibawahnya. Dia sangat mengharapkan pujian dari orang lain dan senang sekali mendapat pujian. Sebaliknya, ia tidak suka dan akan marah jika orang lain memberitahu mengenai kelemahannya.
Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik adalah ia senang menceritakan segala hal tentang dirinya terutama kelebihan yang dimilikinya tetapi tidak tertarik bahkan tidak peduli dengan cerita atau pendapat orang lain. Mereka orang yang ego sentris atau merasa segala hal berpusat pada dirinya sehingga secara sadar maupun tidak sadar, mereka suka memanipulasi orang demi kepentingan dirinya sendiri. Gejala lain dari gangguan narsistik adalah penderita sering merasa iri dengan keberhasilan orang lain, ia ingin menggantikan posisi orang yang dia irikan. Selain itu, penderita gangguan narsistik juga memiliki persaan yang sangat sensitif, mudah terluka jika mendapat pendapat penolakan serta memiliki harga diri yang rapuh, kepercayaan dirinya mudah hancur ketika orang lain memberitahu kelemahamnnya. Meskipun tidak suka diperlakukan seperti itu, penderita narsistik justru suka merendahkan orang lain dan suka memotong pembicaraan orang lain dan mengganti topik pembicaraannya menjadi “aku-sentris”. Oleh karena itu, orang-orang yang berada di sekitar penderita narsistik sering bahkan selalu merasa tidak nyaman berinteraksi dengannya.
Penyebab gangguan narsistik ini bisa jadi karena pola asuh di masa kecil dimana orang tua selalu memuji anak. Tidak salah memuji anak, justru pujian itu perlu sebagai apresiasi agar si anak merasa termotivasi. Namun, pujian yang berlebihan atau hanya mengungkapkan pujian tanpa pernah memberitahu kesalahan atau kelemahan pada si anak, akan membuat anak merasa dirinya tidak pernah salah dan tidak punya kekurangan. Hal ini bisa terbawa sampai ia dewasa. Selain itu, ejekan dan pengabaian dapat juga memunclkan gangguan narsistik. Karena merasa dirinya rendah dan selalu terabaikan, membuat ia ingin dilihat orang lain dan dianggap mampu di segala hal.
Namun, untuk menghindari kesalahan self-diagnosis, kita perlu konsultasikan ke orang yang ahli, seperti psikolog atau psikiater. Selain itu, psikolog atau psikiater juga bisa memberikan pengobatan untuk penderita gangguan narsistik. Kita juga bisa mulai mempelajari ilmu parenting yang benar agar nantinya kita tidak menerapkan pola asuh yang salah yang dapat menyebabkan gangguan kepribadian narsistik.
Wow Deaa
BalasHapusHihi makasi nad udh mampir ^^
Hapus