Stigma

 STIGMA

Oleh : Inas Azizah

Kalian tentu pernah mendengar kata stigma. Walaupun kata ini agak jarang digunakan dalam perbincangan sehari-hari, stigma memiliki makna yang cukup dalam. Karena secara sadar maupun tidak, kita juga ikut melakukannya. Sebenarnya apa itu stigma?


Menurut Erving Goffman, stigma adalah proses di mana reaksi orang lain merusak identitas normal. Atau bisa dikatakan, stigma merupakan kebiasaan sosial dalam memberi ‘label’ terhadap individu lain yang dapat mengurangi identitasnya. 


Bagaimana stigma dapat berperan penting untuk identitas seseorang?

Tentu saja sebenarnya stigma bukanlah penentu identitas dari individu, tapi stigma tetap memegang peran besar dalam perkembangannya. Sebagai contoh saja, kalian mungkin pernah mendengar bahwa anak yang sering dipuji pintar dan diperlakukan baik cenderung menjadi lebih percaya diri dan pintar, sedangkan anak yang sering disebut bodoh oleh orang sekitarnya cenderung merasa lebih rendah diri dan engga mencoba sesuatu baru.


Secara tidak sadar, stigma dapat membuat individu merasa bahwa ‘label’ tersebut merupakan identitasnya, tentu saja dalam artian negatif, hal ini sangat merugikan karena dapat berujung pada diskriminasi atau penolakan sosial. Stigma seperti memberikan kekuatan tambahan dalam diri seseorang, entah itu negatif atau positif, dan bila stigma diberikan secara terus menerus dapat mempengaruhi kepercayaan diri  dan penilaian seseorang atas dirinya sendiri. 


Stigma negatif yang sudah melekat mungkin terlihat sulit dihilangkan, namun tetap ada cara terkait mengurangi stigma sosial. Dimulai dari menunjukan perubahan dan perbaikan sikap sehari-hari, melakukan hal yang ingin dilakukan dan tidak terpaku pada stigma yang diberikan, jangan terlalu memperdulikan pandangan negatif orang lain, dan yang terakhir tetap bersikap positif. 


Didalam kehidupan sehari-hari, stigma positif juga diperlukan untuk membangun rasa percaya diri seseorang. Seperti quotes yang dikatakan oleh Marilyn Monroe

“All little girls should be told they're pretty, even if they aren't.” (semua gadis kecil harus diberi tahu bahwa mereka cantik, meskipun sebenarnya tidak.)


Karena pada dasarnya, stigma merupakan pandangan orang lain terhadap diri kita, bukan menjadi penentu siapa diri kita sebenarnya. Kita dapat menjadi apa saja yang kita inginkan dan usahakan, dukungan orang lain memang perlu, tapi diri sendiri merupakan penentu akhir siapa diri kita. Tetap semangat dalam mengenali diri sendiri, jangan biarkan orang lain merusak identitas kita. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penelitian Quarter-Life Crisis

SELF-CARE Tips at Home

DAMPAK SINGLE PARENTS TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK DIMASA REMAJA