Fenomena Victim Blaming: “Pantesan Dilecehin, Bajunya Kebuka Gitu!”


Oleh : Nadia Aulia Rahma




“Pantesan dilecehin, bajunya kebuka gitu!”

"Kucing kalau dikasih ikan pasti dimakan lah!"

"Lagian jalannya gitu, kan bikin nafsu"

“Salah sendiri, mau aja diajak jalan sama cowok!”


Pernah dengar kata-kata seperti itu? Sering mungkin ya. Ketika kita mendengar berita mengenai pelecehan seksual, terkadang komentar-komentar seperti ini muncul. Komentar-komentar ini seakan mengatakan bahwa apa yang terjadi pada korban merupakan kesalahannya sendiri. Namun, benarkah begitu?

Seorang psikolog bernama William Ryan menulis istilah “blaming the victim”  dalam bukunya. Kalimat ini menjadi pencetus istilah victim blaming. Apa sih “victim blaming” itu?

Victim blaming adalah suatu fenomena ketika korban dari suatu kejahatan atau perbuatan salah lainnya dianggap bertanggung jawab sepenuhnya atau sebagian atas kondisinya. Victim blaming biasanya dilakukan dengan mempertanyakan apa yang seharusnya korban lakukan untuk mencegah kejahatan terjadi, sehingga menyiratkan bahwa kesalahan dari kejahatan yang terjadi terletak pada korban, bukan pelaku.

Singkatnya, victim blaming dilakukan dengan menyalahkan korban atas kejahatan yang dia alami. Misalnya ketika ada kasus pelecehan seksual, orang-orang mempertanyakan bagaimana korban berpakaian, di mana dan kapan kasus pelecehan itu terjadi, dan mengapa korban tidak mencegah saat akan dilecehkan. Apabila korban menggunakan pakaian terbuka, misalnya, orang-orang melakukan victim blaming dengan mengatakan, “Pantas saja dilecehkan, pakaianmu mengundang!”, dan sebagainya.

Lalu, mengapa victim blaming terjadi?

Saat mendengar suatu berita kasus kejahatan, ada rasa takut dan tidak aman yang kita rasakan. Kemudian, untuk melindungi ketakutan ini, beberapa orang mengembangkan “just world hypothesis”: ide bahwa dunia adalah tempat yang adil dan baik. Ideologi ini ringkasnya memberikan rasa aman dan terhibur, sebab mereka—yang melakukan victim blaming—bisa berkata ke diri sendiri, “Kalo gue hati-hati, gue nggak akan jadi korban.” Maka, victim blaming kemungkinan adalah bentuk proteksi diri.

Akan tetapi, bukan berarti victim blaming adalah hal yang sepatutnya dilakukan. Perlu diingat bahwa victim blaming adalah keyakinan keliru. Victim blaming bisa sangat merugikan bagi korban. Victim blaming dapat memperburuk emosi rasa malu korban, dan mengurangi kemungkinan korban untuk mencari dukungan dan bantuan.

Sudah trauma jadi korban, eh malah disalah-salahi. Bayangkan seberapa traumatiknya hal tersebut. Victim blaming dapat membuat korban merasa seperti diserang lagi, dan memperburuk depresi, kecemasan, dan stres pascatrauma yang dialami korban. Bahkan, victim blaming bisa membuat korban tidak melaporkan kejahatan. Duh!

So, now you know! What do you think?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SELF-CARE Tips at Home

Penelitian Quarter-Life Crisis

DC recomendation: Berani Tidak Disukai