Dunia Berputar di Sekelilingnya
Dunia Berputar di Sekelilingnya
Oleh: Shelby Amadea Diamanta
Content Warning: bullying, harshword, and mention of suicide
"Haloo aku Lova Anjani, ingin mengucapkan banyak terimakasih untuk teman–teman yang sudah mendukung aku hingga bisa debut sekarang dengan single terbaru yang berjudul Bumi. Jangan lupa dengarkan laguku di platform kesayangan kalian yaa!"
Kalimat manis itu keluar dari Lova, sang penyanyi baru yang sudah ditunggu debutnya sejak setahun terakhir. Wajahnya yang terlihat menarik dan suara merdu miliknya, membuat orang–orang mencintai Lova sebegitu dalamnya. Dia sudah muncul selama 2 minggu berturut–turut entah di televisi, radio, maupun iklan di sebuah aplikasi pemutar musik yang sering kudengarkan. Setidaknya aku mendengar suara indah Lova sehari satu kali.
kringg kringg
Suara nada dering dari ponsel membuat fokusku teralihkan dari televisi. Ternyata itu sahabatku sejak duduk di bangku SMP, namanya Tasya. Aku memutuskan untuk mengangkat telpon darinya
"Halo, Sya. Kenapa kamu nelpon aku lagi?" karena sungguh, Tasya rajin sekali menelponku 2 minggu belakangan ini hanya untuk menanyakan satu pertanyaan yang sama
"Kamu gapapa? Wajah dan suara Lova muncul terus dimana–dimana loh. Kalo kamu gak nyaman bilang aja"
Aku terdiam dan sedikit merenung karena sejujurnya keadaanku tidak benar–benar baik. Setiap Lova muncul di media, aku selalu gemetar karena teringat bagaimana suara khasnya yang berteriak setiap aku berbuat kesalahan yang sebenarnya sepele. Mata indah yang tak pernah memandangku dengan ramah, seolah–olah aku hanyalah sampah yang mengganggu pengelihatannya. Jari–jari lentik yang menjambak rambutku hingga kepala terasa pusing, dan tentu kata–kata kasar yang selalu keluar dari mulutnya.
Dan Tasya adalah salah satu saksi dari perlakuan yang Lova berikan kepadaku. Ia selalu mendengarkan keluh kesahku, membantu membersihkan luka yang diberikan si primadona angkatan, bahkan Tasya pernah melaporkan perlakuan Lova kepada kepala sekolah walau berujung tidak digubris karena orang tua Lova adalah salah satu donatur besar di sekolah mereka.
Hahh... Hidup ini sungguh tidak adil
"Halo Rani? Kok diem?"
"Oh iya Sya gapapa kok, aku cuma gemeter dikit aja hehe" akhirnya aku menjawab dengan sedikit tawa
"Gak ada yang perlu diketawain ya Ran. Kamu gak mau viralin gitu kelakuan si nenek sihir? Enak banget dia nampakin muka dan senyumnya dimana–mana sedangkan kamu disini berusaha survive dari trauma kamu gara–gara kelakuan dia!" jelas Tasya dengan nada yang menggebu–gebu
"Tapi aku takut Sya.. Kalo gak ada yang percaya gimana?". Aku memang sudah memikirkan saran dari Tasya sejak 3 hari yang lalu, namun tak dapat dipungkiri bahwa banyak hal yang aku khawatirkan.
"Tenang Rani, kamu kan punya banyak bukti. Kamu juga bisa sewa pengacara buat angkat kasus ini"
"Lova punya banyak backing–an Syaa.. Fans, agensi, temen sesama penyanyi, bahkan orang tuanya juga. Kamu gak inget pertama dan terakhir kali kamu ngelaporin dia ke sekolah, laporan itu berujung jadi bumerang buat kita" jelasku kepada Tasya.
"Lagian kamu belom nyoba udah overthinking aja Ran. Jadi mau viralin atau engga? Kalo mau nanti aku bantu buatin threadnya di twitter"
Aku kembali terdiam dan menimbang tawaran sahabatku. Mungkin tidak ada salahnya untuk mencoba kan? Lagipula aku merasa ini semua tidak adil. Padahal Lova pernah berbuat jahat kepadaku tetapi hidupnya malah semakin makmur, seolah–olah dunia dan keberuntungan selalu berputar pada dirinya saja.
"Umm yaudah Sya aku mau coba deh. Aku capek juga merasa diperlakukan gak adil kayak gini" ucapku final.
"Nah gitu dong Ran! Kenapa gak dari kemaren sih ahahha. Yaudah besok hari Sabtu aku main ke rumah kamu deh ya? Nanti kita bikin thread bareng sekalian jajan yang banyak biar kamu bisa lupa sejenak sama si nenek sihir"
"Iyaa nanti aku bilang ke ibu, Tasya mau main gitu. Makasih banyak ya sahabatkuu" aku berucap dengan nada yang menggelikan–menurutku dan Tasya. Panggilan akhirnya terputus dan aku memlih untuk mengerjakan beberapa tugas rumah yang belum selesai.
___________________________________________________________________________
"BEGO! GIMANA SIH LO GINI AJA GAK BECUS?!"
"Ngapain lo lewat sini? Ganggu banget!"
"Ohh sekarang Rani ke sekolah rambutnya digerai ya.. Coba sini gue mau pegang rambut lo"
Tiba–tiba aku merasakan cengkraman yang kuat di pangkal rambutku. Rasanya sangat sakit sampai membuat kepalaku berdenyut
"Ampun Va..."
"Apa? Gue gak denger. Kalian denger guys?"
Suara tawa–tawa jahat memasuki pendengaranku
"Sakit Lova.. Ampun.. Aku minta maaf.. Besok aku kuncir rambutnya" tanpa sadar air mataku menetes karena sungguh cengkraman darinya membuat kepalaku sakit hingga terasa berputar
"Ampun Lova..."
"Maafin aku..."
NIT NIT NIT
Suara kencang dari alarm membuatku terbangun dari mimpi buruk yang sering kali menghantui tiap malam. Aku mengusap pelan keringat dingin yang mengalir di wajahku dan mengambil ponsel untuk melihat jam.
09.05
Sabtu, 14 Mei 2022
Ah.. tiba juga waktunya; batinku gelisah.
Aku memutuskan untuk bangun, merapikan kamar, dan mandi sejenak agar tubuh dan pikiranku kembali jernih. Saat aku keluar dari kamar mandi, sahabatku itu sudah berbaring santai diatas kasur dengan raut wajah yang suram sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
"Lagi ngapain sih Sya? Serius banget mukanya" aku melangkah menuju kasur dan duduk di sebelahnya untuk melihat sekilas apa yang sedang Tasya tulis
"Ini loh lagi bikin threadnya. Aku kalo inget–inget kejadian kamu di-bully bawaannya kesel terus!" jawabnya dengan nada tinggi dan dibuntuti dengan dumelan yang tak ada habisnya.
Sambil menunggu Tasya membuat thread di aplikasi burung biru itu, aku memilih untuk menonton drama yang belum kuselesaikan. Karena sepertinya menceritakan keburukan Lova dan ditumpahkan menjadi sebuah tulisan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Setengah jam kemudian, Tasya menyodorkan ponselnya lalu berkata "Nih coba baca dulu, ada yang mau kamu ubah–ubah gak?". Lantas aku mengambil ponsel miliknya dan membaca draft thread yang sudah dibuat oleh Tasya. Tak ada bedanya dengan mimpiku tadi malam, tetapi tulisan Tasya memang lebih rinci dan menceritakan kronologinya secara lengkap.
"Udah oke kok. Kirim nih Sya?" tanyaku dengan nada sedikit ragu
"Astaga Rani! Aku udah nulis capek–capek masa gak jadi post sih??" jawab Tasya dengan nada ketus dan tak lupa bola matanya yang ikut mendelik
Melihat ekspresi itu, aku hanya bisa tertawa dan memutuskan untuk menekan tombol 'Kirim'. Setelah thread itu sudah benar–benar terunggah, aku langsung membalik layar ponsel Tasya
"Aku gak mau liat Sya, takut". Saat aku bilang takut, maka benar itu yang aku rasakan. Bagaimana kalau nanti viral? Bagaimana kalau semua orang memihak Lova dan malah berbalik merundungku? Bagaimana ini? Bagaimana itu?
Tasya tersenyum dan menepuk pundakku pelan "Kamu udah berani mau speak up aja keren loh Ran! Udah gak usah dipikirin dulu respon netizen kayak apa, jajan keluar yuk? HP kita tinggal disini aja biar kamu gak kepikiran"
Kami menghabiskan waktu untuk bermain di luar selama kurang lebih dua jam. Setelah dirasa kaki sudah mulai lelah karena terlalu banyak berjalan dan matahari yang semakin terik, aku dan Tasya memutuskan untuk kembali ke rumah.
Saat kami memasuki kamar, suara notifikasi masuk dari ponsel Tasya terus saja berbunyi menyapa pendengaran aku dan sahabatku
"Wah kayaknya thread yang kita buat banyak yang liat Ran! Aku yakin pasti banyak yang dukung kamu untuk angkat kasus ini, secara cerita yang aku tulis tadi detail banget loh!" ucap Tasya dengan wajah sumringah disusul dengan kakinya yang melangkah cepat untuk mengambil ponsel miliknya.
Semangat dari wajah Tasya perlahan luntur dan berubah menjadi ekspresi tegang. Karena penasaran dengan apa yang Tasya lihat, aku memutuskan untuk menghampirinya dan melihat layar ponsel Tasya.
Harusnya aku tidak terkejut dengan respon yang diberikan warganet, tetapi tetap saja rasanya dadaku sesak hingga membuat tanganku gemetar dan tanpa sadar air mataku mengalir secara terus menerus.
"Ran udah jangan dibaca ya.. Dasar netizen sinting, masa gak percaya sih? Padahal aku udah ceritain secara rinci. Yakali ngarang!". Tasya masih fokus mengeluarkan kemarahannya dan belum menyadari reaksi apa yang aku keluarkan setelah membaca beberapa kalimat dari warganet
Najis! pansos sama Lova
Pasti dia jelek makanya iri wkwk
Adaa aja hama kayak gini
Mati aja sana
Komentar–komentar tersebut rasanya terus bergema di telinga hingga memenuhi kepalaku.
"Mungkin bener kata mereka, orang kayak aku cuma pengganggu buat Lova. Aku gak pantes hidup ya? Apa aku harus pergi dulu biar aku bisa tenang?" setengah sadar aku mengucapkan kalimat tersebut, menandakan bahwa aku benar–benar frustasi dengan keadaan ini.
Seharusnya aku tidak usah coba–coba membeberkan perlakuan tidak pantas yang dilakukan oleh Lova
Saat mendengar ucapan dari mulutku, Tasya langsung mengabaikan ponselnya dan memeluk diriku untuk menyalurkan rasa aman.
"Rani jangan ngomong gitu.. Semua orang pantes untuk hidup dan dapetin yang terbaik. Please inget kalo mengakhiri hidup sendiri bukan jalan yang harus kamu pilih" bahuku semakin bergetar setelah mendengar respon dari sahabatku. Sungguh aku takut sekali karena perlakuan warganet yang menyerangku secara tidak langsung membuat ingatanku tentang Lova kembali dengan sangat jelas.
"Udah yaa jangan dipikirin lagi omongan mereka karena yang tau kenyataannya kan kita. Tenangin diri kamu oke?" ujar Tasya sambil mengusap–usap punggungku. Aku mengatur nafas sebisa mungkin walaupun rasanya sulit sekali karena dadaku yang masih saja terasa sesak.
Benar kan apa yang aku bilang di awal? Dunia dan keberuntungan selalu berputar di sekelilingnya saja.
___________________________________________________________________________
Sudah satu minggu sejak kejadian viralnya thread tentang perundungan yang dilakukan Lova dan selama itu pula aku sama sekali tidak keluar dari rumah. Untung saja sekolah sedang libur, jika tidak sepertinya aku tak sanggup menghadapi rasa cemas yang tumbuh semakin besar di dalam diriku.
Sebenarnya reaksi warganet tidak sepenuhnya negatif. Beberapa dari mereka percaya dengan ceritaku namun memilih untuk menjadi tim netral karena baru ada statement dari satu pihak. Agensi Lova juga bergerak cepat saat thread tersebut ramai dibicarakan dan tentunya bergerak cepat menyangkal 'rumor' yang beredar. Intinya mereka membentuk karakter Lova menjadi seseorang yang lugu dan baik hati serta sangat menjaga nama baiknya.
Lalu, bagaimana nasib korban sepertiku?
ting!
Lamunanku buyar karena suara notifikasi pesan yang ternyata berasal dari Tasya. Aku membuka pesan darinya dengan malas–malasan
Tasya: RANI KAMU HARUS LIAT
Tasya: https://twitter.com/user051200/status/1512400729293529088?t=perYtmzMeJYMNZOCkc1BZA&s=19
Tasya: aku gak tau ini siapa tapi kyknya dia korban bully lova juga
Tasya: sekarang thread kita rame lagi dan jadi banyak yang percaya! kamu jangan sedih lagi ran</3
Aku membuka tautan yang diberikan dan membaca postingan beserta komentar dari warganet
Kalau boleh jujur, aku merasa sedikit lega walaupun salah satu foto saat aku dirundung harus disebarluaskan oleh orang lain.
"Mungkin memang itu jalan satu–satunya" ucapku dalam hati. Tak lama setelah aku membaca postingan tersebut, saluran televisi yang sejak tadi aku tonton menampilkan berita tentang Lova yang isinya kurang lebih sama dengan apa yang ada di aplikasi burung biru.
Jika aku merasa senang akan berita tersebut, apakah aku termasuk berbahagia diatas penderitaan orang lain?
Tapi bukankah seorang pembully seharusnya wajar mendapatkan sanksi sosial seperti ini?
Lalu, mengapa sekarang aku malah merasa bersalah?
Nyatanya sosok Lova tidak pernah benar–benar bisa hilang dari ingatan dan pikiranku
Entah sampai kapan.
Komentar
Posting Komentar