Andai Saya Jadi Sih Cantik
Discussion Community merupakan salah satu Lembaga Semi Otonom (LSO) yang berdiri sejak tahun 2016 di Fakultas Psikologi UIN Jakarta. Discussion Community menjadi wadah bagi mahasiswa/i yang memiliki ketertarikan pada bidang diskusi, public speaking, event, membuat karya tulis, dan lain-lain. Selain itu, DC memberikan training kepada para anggota untuk memaksimalkan skill yang telah dimiliki.
Pagi hari pukul tujuh, kotak paket tergeletak di depan pintu rumah saya.
Dengan antusias, saya merengkuh kotak yang tak terlalu besar itu dalam dekapan saya. Entah ini pesanan ke-berapa, saya tak tahu. Yang jelas, isi dalam kotak itu sangat tak sabar untuk saya sentuh. Meraih gunting di atas meja, dengan cekatan saya merobek tiap lapisan pembungkusnya. Dan voila!
Sebuah lipstik berwarna merah bata dengan merk yang sedang naik daun ada dalam genggaman saya!
Tak sabar saya membuka isi kemasan. Mengeluarkan produk yang ingin saya sentuh sejak lama. Kardus kemasannya saja begitu cantik, tidak rela mambuangnya sehingga saya menyimpannya dalam almari. Saya berlari ke depan cermin, mencoba memoles lipstik pada bibir saya yang pucat pasi. Cantik sekali memang, penilaian dari netizen memang patut diacungi jempol. Saya harus memberi bintang lima pada toko penjual lipstik ini.
Berbalik badan, saya memandang laci penyimpanan di depan saya. Puluhan alat make up yang saya miliki terpampang nyata di hadapan saya. Hidung, mata, alis, bibir, rasanya setiap inci profil wajah saya memiliki kuasnya tersendiri. Saya membuka laci yang berisi khusus pemerah bibir saya, menghitung jumlahnya dan melihat satu-persatu dengan seksama.
Saya baru sadar, saya memiliki banyak sekali alat pewarna. Yang baru ini adalah lipstik yang ke-sepuluh. Merah delima, merah marun, merah cerah, merah muda, bahkan cokelat ada di dalam dekapan saya. Saya tidak tahu sejak kapan saya mulai mengoleksi benda ini, saya baru menyadari ketika pemoles bibir ini menumpuk di laci make up saya. Padahal bibir saya hanya satu, mengapa saya mengoleksi lipstik sekian banyaknya?
Ya, saya tergoda. Melihat betapa indahnya gores warna pada bibir orang yang saya tonton di sosial media. Kebanyakan lipstik saya masih terisi penuh. Saya tidak benar-benar menggunakannya, alasannya karena warnanya tidak cocok pada bibir saya. Saya tidak merasa cantik ketika menggunakan warna-warna tertentu. Padahal di dalam postingan yang saya lihat, sang gadis tetap terlihat cantik ketika memakai warna lipstik yang berbeda-beda. Mengapa ini tidak berlaku pada bibir saya?
Padahal setiap orang memiliki warnanya masing-masing.
Gadis di dalam video memiliki kulit berwarna netral, tidak cerah namun juga tidak gelap, seraya cocok dengan lipstik berwarna apapun. Sementara kulit saya agak sedikit gelap, lipstik merah muda tak seharusnya saya miliki. Warna itu akan membuat bibir saya terlihat semakin pucat. Kulit sawo matang seperti saya cocok menggunakan lipstik berwarna merah gelap.
Saya tahu, semua orang memiliki warnanya masing-masing. Namun saya juga tahu, yang mana warna yang dijadikan pusat standarisasi.
Berusaha menyesuaikan diri saya dengan gadis di Instagram yang berparas rupawan, memiliki tubuh ideal, juga kulit putih yang diagung-agungkan. Masyarakat menjadikan mereka sempurna bak dewi. Komentar penuh pujian dan tanpa cela. Siapa gadis yang tidak menginginkan hal seperti itu?
Saya berusaha seperti mereka. Merawat wajah saya, membeli berbagai macam riasan persis seperti apa yang mereka gunakan. Saya berusaha untuk terlihat cantik, berusaha untuk terlihat sempurna. Beragam cara telah saya lakukan. Terlalu gigih sampai saya tak sadar jika saya merias diri hanya untuk memenuhi standar sosial. Saya berusaha tampil cantik tidak lain hanya untuk memenuhi ego saya, kecantikan saya tak datang dari dalam diri saya.
Namun dunia hanya milik si cantik. Bukankah begitu perkataan orang-orang saat ini? Dan ya memang benar, saya merasakan hal itu. Wanita berparas cantik yang diutamakan, wanita bertubuh sempurna yang diidolakan. Wanita berkulit cerah yang dicintai semua orang. Sementara yang berparas biasa-biasa saja seperti saya seringkali tidak dianggap, seringkali diletakan di belakang. Penampilan memang nomor satu, seringkali menutupi aspek lain pada diri seorang manusia.
Saya membeli semua warna dalam berbagai lipstik. Berharap saya cocok memakai semua warna satu-persatu. Namun, warna kulit saya berkata lain. Kulit saya tidak secerah gadis yang saya temui pada beranda Instagram. Berpikir keras bagaimana memanfaatkan semua lipstik yang ada pada genggaman saya, saya berusaha mencari jawabannya.
Saya membuka kembali laman Instagram, jadi krim pemutih yang mana yang dapat mencerahkan kulit saya secara instan?
Komentar
Posting Komentar