Postingan

Menampilkan postingan dengan label Edukasi

DC recomendation: Berani Tidak Disukai

Gambar
  Rekomendasi Buku “ Kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Yang bisa kita kendalikan hanyalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri. ” Halo, DC Buddies! Ada gak sih yang pernah atau lagi merasa sulit bahagia, capek, dan frustasi karena gagal memenuhi ekspektasi orang lain, masih terbayang masa lalu yang kurang menyenangkan, atau gampang overthinking terhadap sesuatu yang sebenarnya gak perlu dipikirin banget? Nah, mimin punya rekomendasi buku yang cocok banget buat kalian, nih! Buku " Berani Tidak Disukai " berisi pengembangan diri yang dikemas dalam dialog antara seorang pemuda dan filsuf. Dalam diskusinya, filsuf banyak memgambil teori dari tokoh psikologi Alfred Adler yang membahas tentang trauma masa lalu, tujuan hidup, perasaan inferior, dan hubungan interpersonal manusia yang akan membantu kita melihat kehidupan dengan sudut pandang yang baru. Jadi, apa aja sih yang bisa dilakukan agar lebih bahagia dalam menjalani kehidupan? Men...

Toxic Positivity: Emang Boleh Sepositif Ini?

Hallo DC Buddies! Gimana harinya? Baik? Buruk? Capek? Muak? Lelah? Happy? “Sejujurnya capek banget min, tapi aku ngerasa ini belum seberapa dibanding yang lain” “Sedikit ada masalah tapi its okayy semuanya pasti akan baik-baik aja” Mungkin ada beberapa yang merasa seperti itu, capek tapi ngerasa harus semangat terus. Tanpa kamu sadari, secara tidak sengaja kamu sedang mengalami toxic positivity , lho! Kamu sudah tahu belum tentang istilah " toxic positivity "? Kalo belum, yuk, kita bahas bareng-bareng sekarang! Jadi, toxic positivity itu seperti ketika kamu terlalu fokus pada sikap positif dan malah mengecilkan perasaan negatif kamu. Keliatannya positif sih, tapi perlu kita garis bawahi kalo pikiran positif berlebihan ini akan berdampak pada mental kita, dalam jangka panjang bisa berisiko menyebabkan stres, depresi, gangguan cemas ( anxiety disorder ), dan gangguan mental lainnya. Kenali Tanda Kamu Tidak Sengaja Mengalami Toxic Positivity Salah satu tanda utama toxic positi...

Jalani Hidup Bebas Cemas dengan Filsafat Stoisisme

Gambar
  Oleh : Ridho Syafa Raihan Menurut data dari Riskesdas (2018), sekitar 6,1 % remaja di indonesia berusia 15 ke atas menunjukkan adanya gejala-gejala penyakit mental seperti kecemasan dan depresi. Sangat memprihatinkan bukan? Jadi, betapa mengejutkan nya bagi saya bahwa kecemasan ini sudah menjadi hal yang umum bagi remaja di indonesia,dan saya adalah salah satu orang yang berjuang melawan kecemasan. Setelah lulus dari SMA, saya didera oleh kecemasan berlebih. saya yang biasanya ceria, humoris, dan mudah bergaul. Berubah menjadi pribadi yang sering cemas dan suka menyendiri. hal ini yang membuat saya berubah dan susah berkomunikasi dengan seseorang. Saya mencoba berbagai cara untuk mengatasi kecemasan ini seperti meditasi, olahraga, menonton video tentang cara mengatasi kecemasan di  youtube , hingga membaca banyak buku tentang  self-help.  ketika membaca buku yang berjudul  Filosofi Teras,  saya dipertemukan oleh sebuah ajaran filsafat yang bernama “ Stoic...

Fenomena Victim Blaming: “Pantesan Dilecehin, Bajunya Kebuka Gitu!”

Oleh : Nadia Aulia Rahma “Pantesan dilecehin, bajunya kebuka gitu!” "Kucing kalau dikasih ikan pasti dimakan lah!" "Lagian jalannya gitu, kan bikin nafsu" “Salah sendiri, mau aja diajak jalan sama cowok!” Pernah dengar kata-kata seperti itu? Sering mungkin ya. Ketika kita mendengar berita mengenai pelecehan seksual, terkadang komentar-komentar seperti ini muncul. Komentar-komentar ini seakan mengatakan bahwa apa yang terjadi pada korban merupakan kesalahannya sendiri. Namun, benarkah begitu? Seorang psikolog bernama William Ryan menulis istilah “blaming the victim”  dalam bukunya. Kalimat ini menjadi pencetus istilah victim blaming . Apa sih “victim blaming” itu? Victim blaming adalah suatu fenomena ketika korban dari suatu kejahatan atau perbuatan salah lainnya dianggap bertanggung jawab sepenuhnya atau sebagian atas kondisinya. Victim blaming biasanya dilakukan dengan mempertanyakan apa yang seharusnya korban lakukan untuk mencegah kejahatan terjadi, sehingga meny...